Tampilkan postingan dengan label Analisis Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Analisis Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Januari 2010

Pledoi Puisi, Memori Sunyi

Oleh Abdul Aziz Rasjid

bukan, bukan ciuman
yang tersisa di tubuhmu
tapi puisi paling sunyi


Demikian bunyi lirik dari puisi Teguh Trianton yang berjudul “Pledoi Puisi”, terkumpul dalam Seri Dokumentasi Sastra Antologi Puisi Pendhapa 6 bertajuk Pledoi Puisi (diterbitkan Taman Budaya Jawa Tengah. 2009).

Saya mengasumsikan, kutipan lirik di atas adalah inti dari beberapa tema puisi yang terhimpun di Pledoi Puisi, khususnya puisi yang ditulis oleh beberapa penyair dari wilayah eks Karesidenan Banyumas yang disebut-sebut oleh Haryono Soekiran (kurator untuk antologi ini) sebagai penyair terkini Banyumas

Pada mulanya adalah sunyi
Menikmati Pledoi Puisi, saya seakan diajak untuk menghikmati sunyi. Sunyi yang dihadirkan oleh penyair memang nyaris tak seragam, terkadang menjadi pangkal terkadang pula ujung dari sebuah kejadian: Entah itu berupa perpisahan, pertemuan atau ketidakpastian. Masing-masing sunyi memiliki asal usul tersendiri: Dari alam, hati, maupun puisi.

Seperti puisi pendek Teguh Trianton misalnya, “Meditasi Tepi Laut”, sunyi timbul di antara hingar-bingar pantai dan debur ombak. Menjadi ujung dari sebuah narasi tentang sepi.:
“di kelam hari/ di tepi laut/ aku tak menemukan apapun/ selain ombak pecah/ yang gaduh/ membuatku/ merasa / paling/ sepi.”

Lalu, apakah puisi dihadirkan guna memecah sunyi? Dari membaca puisi dalam antologi Pledoi Puisi, saya tahu bahwa terkadang puisi tidak ditujukan serupa itu. Sebab, puisi pun direaksi oleh penyair sebagai sunyi. Hal itu, nampak jelas dalam bait-bait berikut:

Teguh Trianton, “Pledoi Puisi”: “bukan, bukan kecupan/ yang selalu tertinggal di dada usai bercinta/ lantaran kau kian berjelaga setelah luka padam//…bukan, bukan ciuman/ yang tersisa di tubuhmu/ tapi puisi paling sunyi.”

Dalam puisi itu, meminjam istilah Sigmund Freud, puisi menjadi displacement: objek pemindahan dari sebuah energi yang sebenarnya ingin diarahkan oleh penyair pada suatu objek asal. Tetapi, objek asal tak mudah untuk dipahami sehingga penyair memerlukan puisi sebagai pengganti untuk pembelaan atas kegagalan. Puisi, lalu meruang bersama sunyi dan seakan dipercaya dapat menjelaskan sesuatu yang tak terungkapkan. Hal serupa, juga nampak dalam bait-bait puisi berikut:

Yosi M Giri, “Semesta Kata-kata”: “Kesederhanaan kata mengalir dari tubuhmu/ menjadi banjir bagi wajahmu di cermin/ dan puisi selalu lahir dari sepi yang menjelaskan kentongan/ degub jantung dan kau pun dengar, bukan?”

Hal yang sedikit berbeda, tampak pada puisi pendek Restu Kurniawan, “Ziarah Subuh”, dimana puisi di antara sunyi tak lagi difungsikan sebagai media pemindah yang dapat membantu pertahanan ego penyair untuk menghindari kecemasan. Puisi mengalami destruksi sehingga tak lagi dicitrakan sebagai keindahan.

“aku ingin menemukanmu/ sebelum engkau terlebih dahulu menemukanku/ di sebelah sajadah sebelum subuh/ berbentuk bangkai puisi.”

Namun, walau puisi telah berbentuk bangkai, ia tak ingin dihindari. Sebab puisi diyakini sebagai sebuah hal yang memuat penjelasan, sehingga aku lirik pun ingin menemukannya dan sunyi sebelum subuh dirasa tepat untuk pencarian itu. Sunyi pun menjadi semacam pintu untuk sebuah pertemuan. Pada bait-bait puisi berikut, hal serupa juga dapat kita rasakan:

Isni Ekowati, “Aku Malu”: Aku malu/ Titipkan sesal ini pada alam alam yang ada/ Ruang hampa telah lama membatu/ Menjerumus pada duka-duka.

Sunyi mempertemukan aku lirik pada rasa bersalah di suatu masa. Sehingga sunyi menimbulkan fiksasi: keterpakuan pada masa yang telah lewat yang bisa menimbulkan kecemasan, sehingga aku lirik berkata “adakah jiwa sanggup menahan pedih” dan aku lirik hanya dapat kembali menjadi semacam bocah kanak “bersembunyi di balik resah, tiada berhenti berkaca-kaca”.

Dalam Pledoi Puisi, sunyi adalah memori, sebuah tanggapan awal yang berkelindan bersama keberbagaian perasaan dimana puisi lalu dijadikan semacam pembelaan untuk mengaburkan kecemasan dan kegagalan. Dalam Pledoi Puisi, memori tentang sunyi mencapai puncaknya pada puisi Arif Hidayat “Menyukai Keheningan”, sebab sunyi menjadi pangkal sekaligus ujung, hamburan nuansa eros (daya untuk hidup) sekaligus thanatos (daya kematian) menjadikan sunyi terdampar di posisi yang “antara”.

…menyukai kesunyian/ hanya pesan yang kerap tumbuh/ di antara kulit memuai/ sampai akhirnya/ yang ada menjadi “ada”/ dan buah merambah ke tanah// tapi tidak, burung-burung/ seakan angan yang terus terbang/ melepaskan benang-benang/ ke tengah gumpalan awan/ seketika dan mendadak mendung// sementara keheningan masih berdiam/ berada di tepi jendela/ mengenang, merenung dan menghitung/ hari yang entah berakhir.

Daya ucap & daya pikat
Pada mulanya adalah sunyi, itulah sesuatu yang diujarkan oleh beberapa penyair dalam antologi Pledoi Puisi. Tapi, membicarakan penyair dan puisi, tentu pula membicarakan bagaimana sesuatu itu diujarkan: Perambahan pengucapan, pemanfaatan kebebasan untuk menghasilkan daya pikat.

Apa yang saya maksud sebagai daya pikat adalah metaforarisasi: Mekanisme pembubuhan sejumlah fungsi, makna, dan pesan pada sebuah materi. Dimana materi itu, dieksplorasi oleh penyair untuk dialihkan fungsinya. Dan yang saya anggap paling berhasil melakukan itu, adalah puisi berikut:

Arif Hidayat, “Aku Pohon Purba”: …kini aku tak punya bau tubuhmu/ tak punya kata-kata apalagi puisi untukmu/ hanya lumut-lumut keramat/ menghantui tidur panjangku/ dan seluruh bangunan kota akan melupakanku/…dalam kulitku/ layaknya pestisida yang merong-rong usiaku/ karena memang aku pohon purba yang buta.

Pada puisi itu, secara pribadi saya menemukan kejutan yang menyentak yang sangup menggedor pikiran saya untuk memasuki bentangan ruang tafsir agar saya memulai lagi interpretasi tentang sunyi dalam puisi. “Lumut-lumut keramat”, “kulitku layaknya pestisida”, “pohon purba yang buta” adalah perambahan pengucapan yang saya rasa unik, sebab fungsi asal materi dibubuhi fungsi baru sehingga penyair menjadi semacam pemancar yang mengirim pesan segar.

“Penyair Banyumas terkini”
Demikianlah pembacaan sederhana saya atas antologi Pledoi Puisi yang menghimpun beberapa karya penyair dari eks Karisidenan Banyumas. Sebagai catatan tambahan: Selain para penyair yang terhimpun dalam antologi Pledoi Puisi, tentu masih banyak penyair dari Banyumas yang karyanya patut untuk diamati.

Sebab, mereka mendapatkan publikasi yang cukup besar di berbagai media massa, terbitan alternatif maupun antologi puisi, semisal: W Choerul Cahyadi, Sigit Emwe, Rahmi Isriana, IH. Antassalam, Ryan Rachman, Heru Kurniawan, Alfiyan Harfi, Hizi Firmansyah dan Abdulloh Amir.

Suatu hari nanti, puisi sendiri yang akan membuktikan identitas kepenyairan mereka. Sebab pada akhirnya, puisi yang akan berbicara bagaimana sesungguhnya kualitas kepenyairan mereka, sekaligus menyeleksi dimana mereka harus ditempatkan dalam sejarah sastra suatu bangsa.


Abdul Aziz Rasjid
Peneliti Beranda Budaya
Tinggal di Purwokerto, Jawa Tengah

Pernah dimuat dalam Buletin Sastra Littera, -Taman Budaya Jawa Tengah– Edisi Mei-Juni 2009



Baca Selengkapnya

Dharmadi: Ketika Sajak Kembali Menjejak

Oleh Abdul Aziz Rasjid

Empat tahun sesudah terbitan Aku Mengunyah Cahaya Bulan, muncullah sekarang: Dharmadi, kumpulan puisi Jejak Sajak (diterbitkan Kancah Budaya Merdeka: Purwokerto. 2008). Sebagian sajak-sajak yang termuat didalamnya tak dapat dikatakan muda, sebab ditulis dari rentang waktu 1994-2000, dan sebagian memang dapat dikatakan baru, sebab ditulis dari rentang waktu 2006-2007.

Membaca Jejak Sajak, secara umum mendapati jeritan jiwa Dharmadi sebagai penyair, khususnya keresahannya terhadap keadaan zaman. Jeritan itu semakin menguat, karena ia meyakini, bahwa zaman hari ini penuh kejanggalan juga kemuraman.

Kejanggalan dan kemuraman adalah situasi kengerian. Sebuah suasana yang melahirkan kecemasan. Sebuah suasana yang melahirkan kecemasan. Namun, tidak seperti kecemasan normal hanya melanda seseorang akibat harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Kejanggalan dan kemuraman yang disuguhkan Dharmadi timbul secara massal.

Akibat dari hadirnya kepercayaan berlebihan pada citraan imajiner dan simbolik yang diusung benda-benda di tengah kehidupan, untuk selanjutnya menciptakan kekaburan bahkan kematian hakikat kedirian. Situasi itu namapak jelas dalam bait-bait puisi Dharmadi, antara lain:

“Sejarah Yang Berdarah”: anak-anak mengais-ngais sisa waktu/ dalam timbunan reruntuhan benda-benda/ kehilangan ruh dunia.

“Penari Bar”: bagai ular/ geliat tubuhmu dalam mainan cahaya/ dan patukan-patukanmu mengucurkan darah/ yang menggelegak dari orang-orang/ yang melupakan realitas dunia.
“Sajak Gelombang”: aku mengalir/ dalam mainan/ ketidak-pastian.

Citraan-citraan imajiner dan simbolik yang telah mengaburkan hakekat kedirian manusia, lalu dipahami Dharmadi sebagai sebuah tipuan. Dalam bait penutup “Sajak Bunga Plastik” Dharmadi menuliskannya begini: apalagi yang bisa dirasa-rasa/dari kehidupan/ yang imitasi.

Citraan
Dari manakah citraansimbolik maupun imajiner yang merupakan tipuan itu timbul? Jika dikait-kaitkan, Milan Kundera akan menjawab pertanyaan itu sebagai kemenangan “imagologi”, ketika ideologi dikalahkan oleh realitas dan realitas ternyata bisa dikalahkan oleh image yang dibangun dan disebarkan oleh para pakar “imagologi”, seperti: Perancang busana, ahli kosmetik, dan media massa.

Beberapa diksi dari produk “imagologi”, terdapat pula dalam beberapa bait puisi Dharmadi, dan saya kira pengembangan diksi-diksi itu senada dengan apa yang diungkapkan Milan Kundera (Bold dari saya: AAR).

“Hari-Hari Berkabut ”: ada suara kunci magazine terbuka/ masihkah ada yang tega ingin berburu/ di kegelapan seperti ini?

“Penari Bar”: dj memainkan irama yang berloncatan/ menyihir suasana/ ingar dalam kekosongan.

“Ketika Naik Bus Transjakarta”: ketika sesekali naik bus transjakarta/ mata lelakiku kadang iseng atau tak sengaja menatap payudara/ di dada penumpang perempuan/ yang mengintip lewat model pakaiannya/ ah, betapa subur dan indahnya:....

Kembali pada Milan Kundera, jika ia menyebut zaman itu lahir akibat hadirnya kemenangan “imagologi”. Saya akan menyebut zaman itu sebagai “zaman kemasan” (merujuk pada Goenawan Mohammad), sebuah zaman dimana terdapat pewadahan bertingkat-tingkat, yang sebenarnya merupakan tempat kurang nyaman bagi siapa saja yang menghendaki harus selalu ada pegangan yang teguh, yang menyeluruh, yang utuh, suatu proses yang entah kapan dimulai dan entah kapan berakhir.

Lalu, sebagai manusia yang menyadari adanya seretan kuat arus zaman kemasan. Pada siapa Dharmadi berpegang? Penjelasan ini terdapat jelas dalam dua puisi pendeknya.

“Kesejatian”: kau kosongkan pikir-rasa/ dari mimpi-mimpi imitasi;/ Kuisikan sejatiKu/ sejatimu menjadi.
“Meditasi”: masuklah dalam nadirku;/ Aku dalam ada ketiadaanmu.

Dari banyaknya kejanggalan, kemuraman, yang terakibat dari tipuan citraan zaman kemasan. Sebagai penyair, Dharmadi mengambil sebuah jalan, yaitu perenungan mendalam untuk menemukan hakekat kesejatian, dengan mencoba kembali pada kondisi asali pra-imajiner dan pra-simbolik untuk kemudian menyatu padu, berpegang pada penciptanya yang satu.
Apakah Dharmadi sanggup?

Dugaan Awal
Sekalipun Dharmadi mencoba merenungi lalu menjawab lewat puisi bahwa citraan imajiner dan simbolik dapat dilepaskan dengan kembali pada hakekat kesejatian diri, saya masih menyangsikan. Karena puisi-puisi yang menjejak dalam kumpulan Jejak Sajak, yang pada mulanya terselimuti ketidak percayaan diri, menjadi percaya diri sebab hadirnya penilaian —kesan-kesan kawan— yang mengubah citraan puisi.

Dua perasaan kedirian yang kontras itu, tertuliskan dalam kata pengantaer yang ia beri judul “pada suatu ketika”:
“Puisi- puisi saya tidak layak untuk dimunculkan saat ini, di tengah bertebaran puisi-puisi bagus karya para penyair yang masih muda-muda. Saya sendiri mengagumi karya mereka, mengakui tak mungkin mampu menulis puisi seindah dan sebagus itu.”

Namun, kata-kata sides Sudyarto Ds, “Anda mesti muncul lagi”, pesan Medy Loekito lewat ponsel “hebat, euih, jauh meloncat”, komentar Sihar Ramses Simatupang “Belum tentu puisi yang ditolak di media itu puisi buruk”, serta kata-kata dari Adri Darmadji Woko “terbitkan saja, Dhar”, membangun kepercayaan diri, dan saya membulatkan tekad agar bendel kumpulan puisi itu harus menjadi buku. Entah bagaimana caranya dan bagaimana ujudnya.

Bagi saya pribadi, proses keberadaan Jejak Sajak yang lahir hanya atas dasar kesan-kesan, secara bersamaan, dalam ketaksadaran Dharmadi sesungguhnya telah mewujud sebagi hasrat diri yang narsistik, yang sekaligus pula menyatakan kehendakan bahwa harus selalu ada pegangan yang teguh, menyeluruh, utuh sebagai penguat idealisasi akan identitas diri yang kompleks. Perubahan itu, saya anggap tak senada dengan pesan puisinya yang mencoba lepas dari segala citraan imajiner dan simbolik untuk menemukan hakekat diri yang sejati.

Dari kata pengantar itu serta isi puisi yang disampaikan Dharmadi. Sebagai pembaca Jejak Sajak, saya berharap agar semua yang dituliskan Dharmadi pada akhirnya juga dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti lontaran yang dituliskan Acep Zamzam Noor —tanpa ada kepentingan membandingkan kebesaran kepenyairan pada keduanya— pada kata pengantar kumpulan puisi Jalan Menuju Rumahmu (diterbitkan Grasindo: Jakarta. 2004): Puisi ternyata tidak hanya minta untuk selalu dituliskan, tetapi juga untuk dilakukan. Untuk menjadi perbuatan sehari-hari.

Akhirnya, saya kira Dharmadi pun menyakini hal serupa, karena seperti yang ia tuliskan pada bait dua puisi penutup Jejak Sajak “Kembali Pulang Merapat ke Bayang”, ia menyatakan: …telah ditemukannya jawab tentang ‘apa itu hidup’/ pada laku yang memberi/ ia pun semakin paham tentang mujur malang.


Purwokerto, Juli-November 2008
Abdul Aziz Rasjid
Peneliti Beranda Budaya
Tinggal di Purwokerto

Pernah dimuat di SKH Kedaulatan Rakyat, Minggu Legi 14 Desember 2008 (16 Besar 1941)


Baca Selengkapnya

Selasa, 10 November 2009

Realisme yang Lugu, Cinta, dan Lain-lain

(Membaca Antologi Puisi Pendhapa 5)
Oleh: Haris Firdaus

Penyair yang hanya menyekatkan perhatian pada dirinya sendiri, kata Subagio Sastrowardoyo, tak akan menghasilkan sajak yang cukup berarti. Penyair yang sibuk dengan perasaan, emosi, dan pikirannya sendiri pada akhirnya hanya akan menulis sedu-sedan dan keluh-kesah saja. Sebuah sajak yang cukup berarti dihasilkan ketika seorang penyair menyadari bahwa ia bukan subjek satu-satunya di dunia ini, dan otomatis ia mesti menautkan diri dengan dunia di luar dirinya.

Tapi penautan dengan dunia luar harus “dijaga” agar si penyair tak menjadi juru terang atau pengkhotbah yang membosankan. Dunia di luar penyair—sekali lagi meminjam Subagio—harus dijadikan sebagai alat yang memerluas kecintaan dan perhatian pada diri sendiri menjadi sikap cinta pada kepentingan yang lebih luas. Meski begitu, kecintaan terhadap dunia luar itu tak boleh menjadi sikap “maha tahu” yang kering.
Penyair, seperti pernah disebut Sapardi Djoko Damono, bukanlah mereka yang menjelaskan kebajikan. Penyair sekadar bertugas “mengantar” pembaca pada persoalan lalu meninggalkan pembaca itu sendirian di sana. Memakai cara pandang yang demikian, puisi adalah sebuah ikhtiar menghadirkan pertanyaan tanpa jawaban yang pasti dan muluk-muluk. Tapi yang perlu diingat: “ikhtiar menghadirkan pertanyaan” itu adalah sebuah ikhtiar yang melibatkan estetika. Tanpa estetika, puisi sebaiknya diganti namanya menjadi pamflet.
Cara pandang seperti itulah yang hendak saya pakai untuk membaca Antologi Puisi Pendhapa 5: Temu Penyair Antar Kota yang diterbitkan Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) pada April 2008 lalu. Antologi ini memuat puisi karya 18 penyair dari berbagai kota: Solo, Karanganyar, Sragen, Brebes, Pekalongan, Kudus, Purwokerto, Cilacap, Purbalingga, Wonogiri, Yogya, Semarang, Wonosobo, dan Blora.
Pamflet dan Realisme yang Lugu
Pembacaan ini akan saya mulai dengan puisi karya Ciu Cahyono. Puisi Ciu perlu disebut paling awal karena karyanya meruapkan ciri khas yang tegas dan jelas: menjadi pamflet. Ya, puisi Ciu Cahyono yang kebanyakan panjang-panjang itu memang menggunakan kata-kata yang terang, tanpa tedheng aling-aling, sedikit banyak berbau moralis, dan bersemangat dalam memberi petuah. Ciu memang berhasil menautkan kesadaran dirinya dengan kepentingan di luar dirinya tapi ia “terjebak” menjadi “juru terang”: sebuah “profesi” yang seharusnya dihindari ketika kita menulis puisi.
Puisinya yang berjudul “Sajak Bagaimana” memang mengungkap tanda tanya tapi pertanyaan itu tak dihadirkan dengan cara yang estetis. Pertanyaan itu sekadar disampaikan dengan bertubi-bertubi, dengan sedikit modifikasi kata, tapi tetap saja membosankan. Simak petikannya: Bagaimana negeri ini bisa kaya/ Jika korupsi jadi menu utama/ Bagaimana negeri ini bisa adil dan merata/ Jika penguasa dan pengusaha main mata/ Bagaimana negeri ini bisa senatausa/ Jika anak sekolah membolos demi narkoba/ ....//
Menulis “puisi pamflet” tentu saja boleh dan wajar saja tapi penyair yang memutuskan hal itu mesti pandai melakukan “penyiasatan” agar puisinya tak menjadi retorika kosong. Selain Ciu, dalam antologi ini ada penyair lain yang sajak-sajaknya berbau pamflet, yaitu Lebe Penyair. Bedanya, Lebe ternyata lebih bisa memainkan “siasat” agar kata-katanya tak menjadi deretan semangat yang tanpa makna.
Dari beberapa puisi Lebe dalam antologi ini, “Zombi Sajak Pantura” menurut saya adalah yang terkuat. Melalui puisi itu, Lebe mengundang banyak teks lain untuk melakukan dialog dengan diri dan puisinya. Simak bait yang bagus ini: Zombi benua hitam reinkarnasi/ Kepingannya mewujud – dzuriyat:/ Pada Rumi menjelma matsnawi/ Pada Chairil tersampir Deru Campur Debu/ Pada Sutardji tersangkut O Amuk Kapak/ Dan bermuara Zombi Sajak Pantura/...//
Sama dengan Ciu dan Lebe, puisi karya Arif Hidayat juga sedikit banyak meruapkan bau pamflet meski tak menggebrak. Simak “Sedang Menulis Puisi”: Indonesiaku sedang menulis puisi/ seperti menyulam luka/ penuh penghayatan terhadap bencana/ dengan nafas tertahan waktu/ kenangan tentang 350 tahun/ tetapi, buku sejarah itu berdebu/ malam menjadi terbatuk-batuk/ di antara kenangan tanah//...//
Nada dasar dari pamflet adalah realisme yang lugu. Realisme seperti itulah yang juga terasa dalam sajak Asa Jatmiko, “dunia pelacur”, meski di sana tak ada petuah—sesuatu yang memberi nilai lebih pada Asa: pernah, dan mungkin masih/ di rembang petang/ kerlap-kerlip lampu disko/ diiringi irama ndangdut dari tape recorder jangkrikan/ bagai berpasang mata/ memangil-manggil/ “hai asa, mampir dong!/ kita ngobrol/ bersama sebotol oplosan bir dan congyang/ kacang dan tahu susur milikku/ ketrampilan kecil hasil warisan ibuku/ ibuku mewarisinya dari nenekku/ jangan remehkan nenekku/ ia selir seorang mantan bupati pesisir.”//....//
Catur Mulyadi memiliki kemiripan dengan Asa: ia juga menulis dalam nada dasar realis tapi tak selamanya berkehendak memberi khotbah. Catur melukis keadaan kadang dengan cara yang naif, amat polos, apa adanya, dan tidak dibuat-buat: Terisish di pinggir wangan/ Memelas raut wajah/ Di bawah lampu 5 watt/ Dalam ruang/ Cukup berteduh panas dan hujan/ .../ Terbayang lampau/ Gagah dan perkasa/ Semalam seribu bahagia/ Sewaktu seribu langkah/ Sekarang sisa kenang/ Terhanyut rasa bersalah/ ...// (Puisi “Gubug Muda Penghuni Tua”).
Cinta
Selain realisme puisi yang lugu, puisi cinta ternyata juga bertebaran di Antologi Pendhapa 5. Subagio sendiri pernah mengatakan bahwa cinta adalah tema yang terus berulang dalam sajak karena tema itu lekat dengan sikap batin penyair dalam mengungkapkan kesadarannya yang paling dasar. Cuma, justru karena tema cinta selalu berulang itulah maka menulis puisi cinta yang bagus adalah sesuatu yang susah dikerjakan.
Agus Bakar menulis puisi cinta yang penuh penolakan, dengan sekian metafora yang tak terlampau luar biasa: ...Aku tak ingin mencintaimu lagi. Meski dulu aku adalah/ hamparan tanah yang menyerah pada runcing-runcing jarum-jarum hujan./ Tubuhku rela disergap basah; tubuhku rela berbaur/ aromamu. Karena kala itu aku percaya, tanah adalah lautan/ pasrah menerima basah hujan. Dan tak ada lagi yang bisa memahami cinta hujan selain tanah.// ...// (Sajak “Cinta Tak Lagi Sebagai”).
Alfiyan Harfi menulis puisi cinta yang terlalu umum: Aku melihat sungai/ mengalir di wajahmu/ Udara adalah kulitmu/ Dan matamu kulihat/ pada segala yang kulihat:/ Serupa cermin yang murni// Sekali kau berkata padaku/ Lewat bunga yang mekar/ Serupa merah bibirmu/ Serupa keabadian/ yang jatuh ke dalam waktu// ...// (Puisi “Cinta yang Tersembunyi”).
Gunawan Tri Atmojo menulis kisah cinta dengan latar persetubuhan dengan metafora yang ia ambil dari alam. Puisinya “Fragmen Persetubuhan” seolah hendak mencoba mengaitkan cinta, senggama, dan alam meski tak cukup berhasil karena dua yang pertama ternyata jauh lebih dominan. Simak narasi cinta Gunawan yang “penuh nafsu” ini: .../ akulah pengembara di relung sunyi/ pada tubuh perempuanmu aku berhenti/ segala dahaga kutuang ke jurang vagina/ pada tubuhmu air suci berahi/ membabtisku jadi laki-laki// ...//
Berbanding terbalik dengan “Fragmen Persetubuhan”-nya Gunawan, “mawar kesepian”-nya Edhie Prayitno Ige adalah narasi tentang cinta yang sepi dan liris: .../mawar yang kesepian/ tertunduk sendirian/ simpan hati kering, menanti tetesan embun/ : pernikahan//. Puisi ini memakai metafora yang amat lazim—bahkan cenderung klise—dalam perpuisian Indonesia modern: mawar.
Jusuf AN, dalam puisi “Cinta Tanpa Kepala”, mengisahkan tentang kesulitan yang dialami seseorang ketika hendak melupakan kekasihnya. Tema macam ini, saya kira, bukan sesuatu yang baru. Jusuf pun tampaknya tak banyak melakukan “modifikasi” atas tema itu: kamu datang lewat jendela/ kemudian meledakkan kepalaku tiba-tiba/ sementara untuk melupakanmu/ sesukar menghentikan ombak/ seribu kali teriak/ menyisa serak yang sesak// ....//.
Beberapa penyair lain seperti Mutia Sukma, Restu Kurniawan, Rudiana Ade Ginanjar, dan Teguh Trianton juga menulis sajak cinta dalam nada dasar yang tak jauh beda dengan banyak sajak cinta lain: menggunakan kata sebut “kau-aku”, merendahkan diri di hadapan orang yang dicintai, dan cenderung hiperbolis dalam memberi penanda pada subjek yang dijadikan “sasaran” sajak cinta itu.
Lain-lain
Yuswinardi merupakan penyair yang cenderung melakukan eksperimen terhadap puisi. Ia menggunakan benda-benda sehari-hari sebagai sunjek utama dalam sajaknya, menggunakan topografi yang cenderung menyamping, serta terlihat mencoba menggunakan bahasa sajak yang “berbeda”. Tapi salah satu sajaknya, “Televisi”, justru terlihat kedodoran karena bahasa yang digunakannya terlampau “terang”: Mungkin hidup diciptakan dari televisi. Bermacam mimpi berjejalan. Bermacam keajaiban bertubrukan. Bermacam cinta bertemu dan makan malam. ada janji didalam perutnya yang selalu lapar. Ada air mata yang netes bergetar....
Puisi-puisi Bhre Wijaya dan DAW Riyadi meruapkan bahasa-bahasa personal yang liris, dengan nada yang cenderung “gelap”. Keduanya seperti menuturkan banyak hal dalam puisinya tapi yang terlihat sebenarnya cuma rangkaian kisah dan pernyataan personal yang sangat mungkin kita cari relasinya dengan kondisi biografis dua penyair itu.
Sementara itu, dalam puisi “Requiem Untuk Tuhan”, Yunanto Sutyastomo memberi narasi tentang kondisi eksistensi manusia yang lepas dari sebuah dasar yang paling elementer: Tuhan. Dengan lembut dan penuh suasana muram, Yunanto mengisahkan “requiem” itu: Kini bergegas pulang/ Terkejar gerimis malam/ Tertinggal requiem di kota/ Meninggalkan Tuhan yang terlelap//.

Dimuat di Litera Edisi Juli-Agustus 2008



Baca Selengkapnya

Sutardji, Puisi, Takdir

Oleh: Bandung Mawardi

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) dengan kalem menuturkan bahwa pemberian sekian penghargaan dan gelar kehormatan membuat dirinya malu karena merasa belum bisa berbuat apa-apa. Semua itu adalah takdir. Tuturan itu hadir karena SCB menjadi seorang penerima penghargaan Achmad Bakrie 2008 dalam bidang kesusastraan. Penghargaan itu diberikan karena kontribusi besar SCB dalam kesusastraan Indonesia modern. SCB justru mengaku belum bisa berbuat apa-apa. Kelakar yang genit. SCB sekadar percaya bahwa itu takdir. SCB mungkin hendak mengakui bahwa dirinya dan puisi itu takdir. SCB tidak sekadar menguak takdir tapi menciptakan takdir atas puisi.

Pengakuan SCB mengingatkan penulis pada Nietzsche dalam Ecce Homo. Nietzsche dalam bab “Mengapa Aku adalah Takdir” dengan arogan mengakui: “Aku tahu takdirku.... Aku bukan seorang manusia, aku sebuah dinamit”. SCB memiliki kemiripan dengan pengakuan Nieztsche karena SCB dengan berani hadir dengan pembaharuan estetika puisi Indonesia modern. Kehadiran itu memakai kredo ampuh untuk keimanan atas realisasi pencapaian estetika. SCB menobatkan diri sendiri sebagai “dinamit” yang membuat ledakan besar dalam perpuisian Indonesia modern. Ledakan itu adalah O Amuk Kapak sebagai takdir penyair dan puisi. SCB sejak awal mulai membuat takdir dan menciptakan kesempurnaan takdir itu dalam perbenturan dan konfrontasi besar dengan pembaca dan kondisi zaman. Orang-orang pun sejak itu mulai menaruh perhatian untuk ikhtiar memahami SCB dan puisi-puisinya. Sampai hari ini SCB belum selesai terpahami. SCB berlaku seperti Nieztsche yang selalu menanyakan: “Sudahkah aku dipahami?”
Pertanyaan itu dalam kasus SCB terus menemukan sekian jawaban dari A. Teeuw, Dami N. Toda, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, Umar Junus, Goenawan Mohamad, Rachmat Djoko Pradopo, Harry Aveling, Arief B. Prasetyo, Ignas Kleden, dan deretan nama yang masih panjang. Orang-orang itu ingin memahami SCB dalam sekian perspektif dan pamrih. “Sudahkah aku (SCB) dipahami?” pertanyaan itu sampai hari ini terus menemukan jawaban.
Dami N. Toda dengan eksplisit mengakui takdir SCB itu dalam esai “Peta Perpuisisian Indonesia 1970-an dalam Sketsa”. Eksekusi dari Dami N. Toda: Chairil adalah mata kanan dan Sutardji adalah mata kiri dalam perpuisian Indonesia modern. Takdir itu hadir dalam polemik panjang mengenai kredo dan puisi-puisi SCB. Dami N. Toda adalah pembela militan untuk SCB dengan kepercayaan bahwa puisi-puisi SCB membuktikan suatu pembaruan atau ledakan bom estetika. Kredo SCB menjadi alasan untuk takdir bahwa ada kebenaran estetik menantang alur besar perpuisian Indonesia modern. Kebenaran yang direalisasikan SCB: “Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian ... Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.”
Kehadiran kredo dan puisi-puisi SCB menentukan gairah kritik sastra mulai tahun 1970-an dengan pelbagai label dan teori. Dami N. Toda menjadi sosok penting dan menentukan untuk SCB mirip dengan peran H.B. Jassin untuk Chairil Anwar. Dami N. Toda terus menulis tentang SCB sampai menjelang ajal dengan publikasi esai-esai (kritik sastra) penting dalam kesusastraan Indonesia modern. Peran lain nampak pada sosok Umar Junus yang tekun mengaji SCB dengan kritis. Umar Junus (1981) pun mengakui takdir SCB dan menilai bahwa kredo dan puisi-puisi (yang) mantra SCB itu menciptakan misteri atas misteri puisi. SCB hadir dengan pamrih emansipasi kata dari tirani dan permainan bahasa dengan kontradiksi-kontradiksi memukau.
Kesibukan tukang kritik mengurusi puisi-puisi SCB membuat Ajip Rosidi gerah. Ajip Rosidi menuduh bahwa sekian tukang kritik terlena dan latah untuk masuk dalam pembicaraan puisi-puisi SCB dengan konsep mantra yang dicantumkan SCB dalam kredo. Ajip Rosidi sekadar menjadi interupsi karena tidak mengeluarkan keringat deras untuk membuat kondisi kritik sastra dan puisi mencapai ekstase.
A. Teeuw dengan analitis menunjukkan kontradiksi-kontradiksi dalam buku Tergantung Pada Kata (1980). A. Teeuw secara genit memberi judul untuk bab SCB dengan ungkapan kotradiktif “Terikat dalam Pembebasan Kata”. Judul itu adalah vonis utuh A. Teeuw mulai dari asumsi sampai konklusi. Keraguan A. Teeuw kentara dalam konklusi serba mungkin: SCB itu perombak, puisi-puisi SCB itu seperti fashion, SCB itu gejala pinggiran, atau SCB itu tukang semai epigon. A. Teeuw sekadar sanggup membuat ramalan naif tanpa ada rasa percaya: “Apakah dia tetap kucing yang dengan sendirinya menghilang ngiaunya dari dunia manusia ataukah kucingnya dimanusiakan dan ngiaunya dibahasakan?”
Arus puisi dengan ruh modernitas bergulir sejak Pujangga Baru dan meledak dalam puisi-puisi Chairil Anwar menemukan penantang ampuh yakni SCB. Kredo puisi SCB adalah kekasih dan musuh untuk laur-alur perpuisian Indonesia modern. SCB hadir dengan puisi-puisi dalam tegangan tradisionalitas, modernitas, dan posmodernitas. Puisi-puisi SCB menjadi ledakan dalam kesadaran bahasa dan olahan estetik untuk membuka kemungkinan-kemungkinan struktur dan sistem makna. Kehadiran puisi-puisi SCB itu pun mengingatkan publik atas diri Chairil Anwar melalui revolusi dan pemberian ruh hidup atas potensi bahasa.
Perkara bahasa dalam revolusi Chairil Anwar dan SCB itu membuat Rachmat Djoko Pradopo mempan kena rayuan dengan publikasi penelitian Bahasa Puisi Penyair Utama Sastra Indonesia Modern (1985). Penelitian itu menempuh jalan kecil karena cenderung akademis, formalistik, dan struktural. Penelitian itu sejak awal percaya bahwa Chairil Anwar dan SCB adalah pembaharu dalam perpuisian Indonesia modern. Kekuatan dua penyair itu ada dalam permainan dan pengolahan bahasa. Hal itu menjadi dalil baku Rachmat Djoko Pradopo yang kaku dan kikuk: “Pembicaraan atau analisis puisi itu yang terpenting adalah analisis kebahasaannya. Kepuitisan atau nilai estetis sajak itu terutama ditentukan oleh bahasa atau penggarapan bahasanya.”
Takdir SCB belum selesai dalam tulisan-tulisan tukang kritik sebagai malaikat pencatat kebaikan atau keburukan. SCB sebagai takdir masih mendapatkan perhatian dalam esai-esai mutakhir. Polemik SCB mulai tahun 1970-an mayoritas belum berubah dalam perkara-perkara baku kredo dan pencapaian estetika. Kehadiran O Amuk Kapak jadi lahan tak pernah selesai digarap dan terus menumbuhkan sesuatu untuk dipanen. Buku-buku puisi lain dari SCB selalu jadi penantian tanpa akhir. SCB dengan genit menonton resah dan marah pembaca dan tukang kritik. Radhar Panca Dahana menilai bahwa kegenitan SCB itu menemukan klaim dalam kelakar bahwa O Amuk Kapak adalah puncak. Pertanyaan atas kelakar itu: Apakah SCB mau dan sanggup mencipta puncak-puncak lain?
Takdir yang diciptakan SCB memiliki usia panjang dan aura memukau. Pembacaan dan penilaian Arief B. Prasetyo (2002) atas puisi-puisi SCB menunjukkan kuasa SCB dalam rumah puisi Indonesia modern. Arief B. Prasetyo merasa pukau SCB itu sejak bocah ingusan sampai ketika sanggup menjadi pembaca puisi yang kritis. Kepercayaan publik bahwa puncak SCB adalah O Amuk Kapak seakan menemukan penguatan pada kecurigaan Arief B. Prasetyo: “Jangan-jangan, justru lantaran telanjur menanggung beban sejarah di pundaknya, Sutardji kelak cuma akan menyulut batang mercon basah dengan buku puisi barunya. Itulah momen mengenaskan ...” Arief B. Prasetyo melabeli kuasa SCB sebagai “ikon mitologis” dalam khazanah perpuisian-kepenyairan modern Indonesia. Label keren dan mengerikan.
Ignas Kleden dalam esai “Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri” (2007) membuat pembacaan lain dengan kritis. Ignas Kleden menilai kredo puisi SCB itu bukan teori tapi rencana kerja, program, desai, atau tekad. SCB bekerja menulis puisi untuk mencari kebenaran kredo itu. SCB membuktikan itu dengan sekian risiko dan kontradiksi. Ignas Kleden mengakui bahwa SCB patut mendapatkan catatan-catatan penting karena sanggup melakukan dekonstruksi dalam konteks bahasa, sastra, dan kebudayaan. SCB memukau dan menggairahkan.
Sekian pembacaan dan penilaian atas puisi-puisi SCB adalah bukti antusiasme dan kerepotan publik dan tukang kritik sastra. SCB sebagai penyair ampuh pun menerima ganjaran-ganjaran besar atau “kutukan indah” dari pelbagai orang dan lembaga. Berita-berita mutakhir menyebutkan bahwa SCB mendapatkan acara-acara fenomenal: perayaan usia ke-66 tahun (14-19 Juli 2007) di TIM (Jakarta); Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (10 Desember 2007); peringatan 67 tahun SCB di Pekanbaru (Riau) dengan penerbitan buku puisi Atau Ngit Cari Agar dan peresmian bulan Juni sebagai “bulan Sutardji”; penerima penghargaan Achmad Bakrie 2008 untuk kesusastraan. SCB adalah takdir membawa berkah. Keren!
SCB suatu hari memberi ajaran: “Menulislah puisi dengan gembira!” atau “Hormat penuh untuk puisi.” Hari ini publik patut percaya bahwa SCB adalah takdir dan puisi adalah takdir. Begitu.

Dimuat di Lampung Post (7 September 2oo8)

Baca Selengkapnya

Iklan: Menundukkan Puisi Menjadi Suci

Oleh: Haris Firdaus

Sebagai sesama teks, dilihat secara sepintas iklan dan puisi memang berada dalam ruang yang terpisah jauh. Puisi adalah bagian dari produk kesenian yang seringkali dianggap memiliki nilai-nilai tertentu dan jauh dari aroma komersial. Sebaliknya, iklan adalah teks yang memang sengaja dibuat untuk menjual sesuatu. Iklan, seperti kata Budiman Hakim (2006: 218), dibuat bukan untuk mendidik masyarakat, melainkan untuk menjual sebuah barang atau jasa.

Kalau puisi adalah sebuah teks yang diharapkan membawa pembacanya menyusuri imajinasi-imajinasi yang jauh atau memberi perenungan-perenungan yang dalam, iklan diharapkan mampu merangsang khalayaknya untuk membeli sesuatu. Selain itu, perbedaan keduanya juga terletak pada tingkat kesadaran manusia yang ingin disentuh. Puisi diharapkan mampu menyentuh manusia pada sisi terdalamnya, sedangkan iklan dianggap hanya akan menyentuh manusia pada perasaannya yang lebih permukaan.
Pembedaan yang kedua itu, saat ini, lama-kelamaan mulai meluruh. Bukan karena puisi yang mengalami degradasi, tapi karena iklan yang terus mengalami peningkatan secara tekstual. Iklan-iklan yang kita saksikan di media massa saat ini telah banyak yang mengalami metamorfosis dari sekadar promosi yang kering menjadi teks yang kaya imajinasi.
Bahkan di kalangan produsen iklan sudah ada kesadaran bahwa iklan yang baik adalah gabungan dari puisi dan lukisan. (Hakim; 2006: 13). Kesadaran inilah yang agaknya membuat produsen iklan saat ini tak ragu memasukkan puisi atau penyair sebagai bagian dari sebuah iklan.
Di jaman dulu, ketika puisi Indonesia modern baru merintis jalannya, barangkali tak akan terpikirkan untuk menggabungkan iklan dan puisi. Tapi di jaman ini, ketika industri periklanan terus melakukan perluasan terhadap kemungkinan untuk menanamkan pengaruh lebih banyak pada khalayak, penggabungan dua teks itu telah terjadi.
Kita mungkin pernah melihat Rendra membaca puisi dalam sebuah iklan di televisi. Atau, kita mungkin pernah membaca puisi-puisi Joko Pinurbo dalam sebuah iklan. Puisi-puisi Joko Pinurbo seperti “Tiada”, “Citacita”, “Rumah Cinta”, dan “Baju Bulan”, pernah dimuat dalam kolom iklan sebuah perumahan mewah yang ditayangkan di pojok kiri-bawah halaman satu sebuah surat kabar nasional.
Masuknya puisi sebagai bagian dari teks iklan, adalah penanda bahwa konvergensi antara dua dunia—dunia sastra dan dunia periklanan—yang seringkali dianggap tak memiliki relevansi ternyata telah terwujud.
Menembus Alam Bawah Sadar
Dalam puisi yang berjudul “Iklan”, Sapardi Djoko Damono mengabarkan kisah seorang manusia yang terjebak pada pesona iklan: Ia penggemar berat iklan. / “Iklan itu sebenar-benar hiburan,” kata lelaki itu. / “Siaran berita dan cerita itu sekedar selingan.” / Ia tahan seharian di depan televisi. / Istrinya suka menyediakan kopi dan kadang-kadang kacang atau kentang / goreng untuk menemaninya mengunyah iklan.
Puisi itu adalah sebuah kabar tentang dominasi iklan terhadap kehidupan sehari-hari manusia. Kehidupan manusia yang tak bisa melepaskan diri dari libido untuk mengonsumsi, adalah dampak dari kuatnya pengaruh iklan.
Sapardi, dalam puisi itu juga menyebut betapa iklan tak hanya berurusan dengan hasrat mengonsumsi, tapi sudah meresap sangat jauh pada pribadi manusia. Sapardi menulis: Lelaki itu meninggal seminggu yang lalu; konon yang / terakhir diucapkannya sebelum “Allahuakbar” adalah “Hidup / Iklan!” //
Seakan mengamini Sapardi, Nukila Amal dalam novel sulungnya, Cala Ibi, juga mengisahkan tentang pengaruh iklan pada dorongan bawah sadar manusia. Nukila bercerita tentang seorang perempuan yang tinggal di kota yang terobsesi pada iklan-iklan yang ada di sepanjang kota.
Tokoh perempuan dalam Cala Ibi begitu terobsesi pada papan-papan iklan yang bertebaran di ruas jalan kota sehingga dalam sebuah perjalanan bersama kawan-kawannya, ia memilih keluar dari rombongan dan berjalan sepanjang jalanan kota untuk satu tujuan: membaca iklan!
Melalui kisah perempuan yang berjalan menyusuri kota untuk membaca iklan, Nukila seperti hendak membuat metafora bahwa iklan pada hari ini hampir sama dengan kitab suci yang wajib dibaca. Iklan, melalui teknologi yang makin canggih dalam mengonstruksi realitas, telah masuk pada batin manusia yang terdalam, memprovokasi manusia agar menganggapnya sebagai barang penting yang layak untuk dibaca dan diperhatikan.
Ya, kalau dulu Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad dan menyerunya untuk membaca firman Tuhan, kini para produsen barang dan jasa menyeru kita untuk membaca iklan.
Mengambil pendapat Peter L Berger (1990: xx) tentang dialektika manusia dan realitas sosial, iklan adalah produk manusia yang telah mengalami objektivasi lalu balik memengaruhi manusia dalam sebuah proses yang oleh Berger disebut sebagai “internalisasi”. Meski pada awalnya iklan adalah hasil dari proses eksternalisasi yang dilakukan manusia, pada titik tertentu ia menjadi objektif—menjadi wujud yang mandiri dan bebas dari campur tangan manusia—lalu pengaruhnya akan terserap oleh manusia yang melakukan interaksi dengannya.
Dalam perkembangannya, eksternalisasi yang dilakukan manusia untuk menghasilkan iklan terus mengalami peningkatan. Penyempurnaan dari metode beriklan terus dilakukan. Penyempurnaan ini, ironisnya, juga berdampak pada menguatnya pengaruh iklan terhadap manusia. Seperti dalam puisi Sapardi dan Cala Ibi, iklan bukanlah sesuatu yang hanya menyentuh keinginan melakukan konsumsi.
Kini, iklan bahkan bisa “diingat sampai mati” seperti dalam puisi Sapardi, atau mampu membuat manusia terobsesi untuk terus-menerus membacanya seperti dalam Cala Ibi. Hari ini, kita memang mendapati sebuah kenyataan bahwa iklan telah “mengejar” puisi dalam hal memengaruhi kesadaran manusia.
(Dimuat Di Humaniora Teroka Kompas, 23 Februari 2008)


Baca Selengkapnya

Zikir Sosial Taufiq Ismail

(Membaca Puisi Religius dalam "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia")
Oleh: Haris Firdaus

/1/
Seorang penyair tak bisa dengan begitu saja diringkus dalam satu kategori berdasar puisi-puisi yang dominan ia tulis. Bagaimanapun, penyair—sebagai manusia—selalu lebih kompleks daripada puisi-puisi yang ia ciptakan. Karenanya, telaah atas karya seorang penyair bisa mengambil banyak sudut pandang dan gagasan.


Seorang penyair yang banyak menulis tentang puisi protes, misalnya, tak bisa dengan begitu saja disebut sebagai “penyair protes” dan oleh karenanya puisi-puisinya yang tak termasuk ke dalam puisi protes bisa diabaikan begitu saja. Mengikuti pendapat Goenawan Mohammad, lebih baik kita bicara tentang karya, dan bukan tentang penyair.1
Artinya, pembicaraan dalam sastra lebih baik dimulai dari telaah real atas karya sastra dan tidak buru-buru mengambil kesimpulan atas dasar nama sastrawan. Seperti dikatakan Goenawan, tidak semua puisi yang diciptakan penyair besar itu bagus. Juga, tidak semua puisi penyair yang tak dikenal itu buruk.
Dalam konteks inilah pembicaraan tentang karya Taufiq Ismail hendak dikemukakan. Taufiq Ismail, bagaimanapun, terlanjur dicap sebagai “penyair protes” karena sajak-sajaknya dalam Kumpulan Tirani dan Benteng. Tapi, sebenarnya tidak semua puisi Taufiq melulu bercerita soal protes sosial.
Melalui esai ini, hendak dikemukakan dan dibahas puisi-puisi Taufiq yang berkaitan dengan persoalan religiusitas. Religiusitas bisa diartikan sama dengan kamus sebagai “perasaan keagamaan”. Atau, bisa pula memakai pendapat Paul Tillich yang menyebut religiusitas sebagai “dimensi kedalaman”. Dalam konsepsi Tillich, religiusitas tak selalu berkaitan dengan pemelukan agama secara formal.2
Taufiq Ismail sendiri memahami religiusitas lebih sebagai bagian dari proses keberagamaannya. Mengambil pendapat Suminto A. Sayuti, Taufiq seringkali mendudukkan puisinya sebagai “doa” dan “ibadah”.3
Adapun acuan utama yang dipakai sebagai sumber dalam pembahasan ini adalah kumpulan puisi Taufiq yang berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia atau MAJOI. Buku tersebut dipilih karena di sana dihadirkan puisi-puisi Taufiq dari beragam jenis baik ditilik dari sudut isi maupun gaya ucap.4
Karena nafas religius yang terdapat dalam puisi Taufiq sangat dipengaruhi oleh Islam sebagai agama yang dianutnya, esai ini akan diawali dengan sebuah pembicaraan mengenai sastra, agama, dan kompleksitas hubungan keduanya.

/2/
Relasi sastra dengan agama bukanlah suatu soal yang bisa dengan mudah diselesaikan. Goenawan Mohammad pernah membuat sebuah ulasan cukup panjang tentang “sastra keagamaan”.5 Meski esai Goenawan itu dibuat secara khusus untuk menyoroti perkembangaan sastra bernafaskan agama pada awal 1960-an, gagasan di dalamnya tetap perlu ditengok guna mendapat sedikit penjelasan tentang relasi sastra dengan agama.
Bagi Goenawan Mohammad, sastra keagamaan adalah sebuah genre sastra yang bermaksud (dengan sadar) memberikan jawaban terhadap situasinya dengan berbasiskan nilai-nilai yang bersifat tradisional keagamaan.
Latar belakang munculnya sastra keagamaan, menurut Goenawan, bisa ditilik dari dua motif. Pertama, motif-motif kesusastraan, yakni persoalan pencarian identitas sastrawan-sastrawannya. Kedua, motif di luar kesusastraan, yakni pengaruh penggolongan dan rivalitas antar-golongan di dalam masyarakat.
Identitas seorang sastrawan, dalam dunia sastra memang sangat perlu guna memberikan ciri khas pada karya-karyanya dan juga agar peminat sastra mudah mengingat sastrawan tersebut. Identitas dalam sastra—salah satunya—bisa didapat seorang pengarang dengan cara menciptakan karya-karya dengan ciri tertentu, secara terus-menerus.
Goenawan mengungkap, ada beberapa pengarang yang berusaha menemukan identitas kepengarangannya dengan menulis karya yang masuk dalam genre sastra keagamaan. Artinya, minat dan keinginan yang mendorong mereka berkutat dengan sastra keagamaan adalah semata-mata demi pencapaian identitas yang mapan.
Seandainya analisis Goenawan tentang motif pertama ini benar, maka seperti dikatakannya pula, sastra keagamaan tak akan bisa bertahan lama. Keberadaannya pun tak bisa dipertanggungjawabkan karena dua alasan.
Pertama, karya yang dibuat demi penciptaan identitas tertentu bukanlah sebuah karya yang serius. Karya tersebut bisa dianggap sebagai sebuah eksperimen belaka.
Kedua, pencarian identitas dengan mengkhususkan penulisan pada lingkungan hidup tertentu adalah sebuah kesalahan. Identitas keluar dari kepribadian sebagai sebuah “sikap hidup” sehingga yang terpenting sebenarnya bukan hanya “apa” yang dituliskan, tapi juga “apa dan bagaimana” cara menuliskan itu.
Penggolongan dalam masyarakat yang makin tajam memang bisa membuat kemunculan sastra keagamaan. Kebebasan berpikir yang tumbuh di masyarakat membuat tiap orang bebas mengemukakan pendapatnya. Akibatnya, benturan gagasan dan beda kategori ide adalah sesuatu yang wajar.
Dalam dunia sastra, kecenderungan tersebut memunculkan banyak kategori sastra, salah satunya sastra keagamaan. Tapi, lagi-lagi Goenawan mengatakan bahwa motif kedua ini pun tak cukup menopang kehadiran sastra keagamaan.
Alasan Goenawan adalah bahwa agama yang terlibat dalam soal rivalitas antar golongan lama-kelamaan akan kehilangan sumber rohaninya. Kehilangan yang demikian ini akan berdampak pada hilangnya vitalitas dan semangat dari karya sastra yang mengambil sumber penciptaan dari agama karena agama juga telah “kehilangan” energinya.
Analisis Goenawan tadi sampai pada kesimpulan bahwa sastra keagamaan, dalam arti genre sastra yang mengambil nilai-nilai tradisional agama sebagai jawaban atas sebuah situasi, tidak mampu menemukan alasan untuk hadir dan bertahan.

/3/
Sampai di sini, pembicaraan akan saya lanjutkan dengan mengemukakan sebuah esai Ajip Rosidi.6 Pada tahun 1968, Ajip pernah menulis sebuah esai yang membicarakan puisi-puisi Taufiq Ismail yang berbau keislaman. Sajak-sajak yang dibicarakan Ajip adalah karya-karya Taufiq yang dibuat sebelum terbitnya buku Tirani dan Benteng.
Pembicaraan tentang beberapa puisi Taufiq tersebut menjadi penting untuk melakukan pembandingan dengan sajak-sajak religius Taufiq yang dibuat lebih kemudian dan bisa kita temukan dalam MAJOI.
Menurut Ajip, beberapa sajak Taufiq yang religius dipengaruhi oleh kisah-kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW seperti yang bisa kita temukan dari kitab-kitab hadist. Tentu saja, sejarah Muhammad SAW tersebut telah mengalami interpretasi dari Taufiq dan kemudian telah diberi sentuhan personal.
Karena itu pula, menurut Ajip, membaca sebagian sajak Taufiq tadi harus dengan “persiapan-persiapan”, terutama dengan memelajari kisah hidup Nabi Muhammad SAW. Bila tidak, kata Ajip, sajak-sajak itu “tidak akan berbunyi sama sekali”.
Yang juga lebih penting untuk dikemukakan di sini adalah penilaian Ajip yang mengatakan bahwa sajak-sajak Taufiq yang bernafaskan keislaman tidak lagi hanya menjadikan Islam sebagai “latar belakang”. Latar belakang agama, dalam sajak Taufiq, menjadi sikap dalam menghadapi berbagai masalah.
Bagi Ajip, meski banyak penyair yang beragama Islam, hanya sedikit penyair yang secara sadar mau menggali khasanah keislaman untuk kemudian digubah dalam sajak. Taufiq Ismail, menurut Ajip, adalah salah satu penyair yang berhasil menggali khasanah keislaman dalam sajak-sajaknya.
Kalau telaah Ajip benar, maka bisa diambil kesimpulan bahwa puisi-puisi Taufiq Ismail yang ia bahas masuk ke dalam genre yang oleh Goenawan Mohamad disebut sebagai “sastra keagamaan”. Sebab, seperti dikatakan Ajip, puisi Taufiq bukan lagi hanya menjadikan Islam sebagai “latar belakang”, tapi juga sebagai sebuah sikap dalam melakukan penyelesaian atas sebuah masalah.

/4/
Pertanyaan yang segera muncul selanjutnya adalah: apakah puisi-puisi religius Taufiq Ismail dalam MAJOI juga bisa digolongkan ke dalam sastra keagamaan—dalam artian puisi-puisi tersebut menyodorkan nilai-nilai agama sebagai sebuah sikap? Pertanyaan itu, mau tak mau, mesti dicari jawabannya dengan melakukan pembahasan langsung atas puisi-puisi religius dalam MAJOI.
Salah satu puisi dalam MAJOI yang terasa jelas aroma religiusnya adalah puisi yang berjudul “Doa”: Tuhan kami/ Telah nista kami dalam dosa bersama/ Bertahun membangun kultus ini/ Dalam pikiran yang ganda/ Dan menutupi hati nurani// Ampunilah kami/ Ampunilah/ Amin// Tuhan kami/ Telah terlalu mudah kami/ Menggunakan asmaMu/ Bertahun di negeri ini/ Semoga Kau rela menerima kembali/ Kami dalam barisanMu// Ampunilah kami/ Ampunilah/ Amin.//
Puisi itu dibuat tahun 1966 dan pernah dimuat dalam kumpulan puisi Tirani dan Benteng.7 Melihat angka tahun pembuatannya, bisa didiuga bahwa puisi ini dibuat sebagai tanggapan Taufiq atas kondisi Indonesia pada tahun 1966. Saat itu, Indonesia sedang dilanda kekalutan yang luar biasa mengenai masa depannya sebagai bangsa.
Keadaan ekonomi yang berantakan, kondisi politik yang kacau balau, kekuasaan pemerintah yang sewenang-wenang, ditambah dengan kecamuk huru-hara demonstrasi, membuat Indonesia sebagai negeri yang hiruk-pikuk dengan berbagai ragam cobaan.
“Doa” menggambarkan bagaimana Taufiq memandang semua persoalan yang ia saksikan hadir bertubi-tubi di depannya. Sebagai insan religius yang taat, Taufiq melihat masalah-masalah itu sebagai buah tangan manusia yang banyak melakukan perbuatan dosa. Kezaliman yang dibiarkan berlarut-larut, menurut Taufiq, adalah sebuah “dosan bersama” karena kediaman terhadap kezaliman itu pada akhirnya hanya akan melanggengkan “kultus” yang berakibat buruk.
“Doa” jelas tidak hanya menjadikan nuansa keagamaan sebagai latar belakang. Sebaliknya, puisi itu memang menjadikan keyakinan dan ketundukan pada Tuhan—yang merupakan ajaran pokok agama—sebagai inti persoalan. Sikap Taufiq yang terlihat dalam “Doa” tak pelak mencerminkan sikap seorang penganut iman sejati. Dalam menghadapi segala soal di depannya, Taufiq mengambil sikap khas seorang yang taat agama: mengembalikan muara penyelesaian persoalan itu pada Tuhan.
Dalam puisi berjudul “Lima Syair Tentang Warisan Harta”, Taufiq Ismail menceritakan lima kisah teladan tentang bagaimana memerlakukan harta warisan. Cerita yang dikutip Taufiq berasal dari sejarah beberapa tokoh penting di dunia. Kesamaan cerita-cerita itu adalah lima tokoh yang diceritakan Taufiq sama-sama memerlakukan harta sebagai titipan Tuhan yang seharusnya “dikembalikan” dengaan cara menyedekahkannya pada orang yang kekurangan.
Simak penggalan puisi tersebut: Inilah syair pertama tentang secercah sejarah/ Mengenai nabi Muhammad menjelang wafat/ Ketika sakit beliau sudah terasa berat/ Pada tabungannya yang sedikit jadi teringat/ Menyedekahkannya belumlah lagi sempat/ Maka Rasulullah berkata pada Aisyah/ “Aisyah, mana itu asharafi?/ Sedekahkanlah segera di jalan Allah/ Berikanlah secepatnya pada orang tidak berpunya/ ....//
Berturut-turut setelah bait tersebut, Taufiq menceritakan tentang Khalid bin Walid, Umar bin Khatab, Aurangzeb, dan Sultan Shalahudin. Kelimanya diceritakan sebagai orang yang sangat berhati-hati dalam memerlakukan harta yang mereka miliki. Hampir semuanya menganggap harta bukanlah sesuatu yang terlampau penting. Dengan menceritakan kisah itu, Taufiq sebenarnya tengah berusaha memaparkan sikapnya pula tentang harta. Dan, sikap Taufiq yang demikian itu, seperti bisa kita duga, tentu dilatarbelakangi oleh ajaran agamanya: Islam.

/5/
Puisi “Sajadah Panjang” adalah pernyataan Taufiq yang mengharukan tentang pengabdiannya pada Tuhan: Ada sajadah panjang terbentang/ Dari kaki buaian/ Sampai ke tepi kuburan hamba/ Kuburan hamba bila mati// Ada sajadah panjang terbentang/ Hamba tunduk dan sujud/ Di atas sajadah panjang ini/ Diselingi sekedar interupsi/ Mencari rezeki, mencari ilmu/ Mengukur jalanan seharian/ Begitu terdengar suara azan/ Kembali tersungkur hamba// Ada sajadah panjang terbentang/ Hamba tunduk dan rukuk/ Hamba sujud dan tak lepas kening hamba/ Mengingat Dikau/ Sepenuhnya.//
Metafora “sajadah panjang” adalah metafora yang jelas mendekatkan kita pada simbol Islam. Tapi yang terpenting sebenarnya adalah kenyataan bahwa metafora itu merupakan simbol pengabdian total. Melalui metafora itu, Taufiq hendak melukiskan dirinya sendiri sebagai seorang yang selalu “tunduk dan sujud” di hadapan Tuhan.
Kesibukan duniawi memang tak ditinggalkan sama sekali. Cuma, kesibukan itu hanyalah semacam “interupsi” yang sejenak saja. Begitu selesai urusan tersebut, pengabdian melalui “sajadah panjang” itu akan kembali dilanjutkan. Di sini, agama lagi-lagi tak berperan sebagai sekadar “latar belakang”. Agama—setidak-tidaknya mewujud dalam nilai-nilainya—dalam puisi tersebut adalah pokok soal terpenting.
Melalui “Sajadah Panjang”, Taufiq sebenarnya sedang melakukan semacam pengingatan pada para pembaca puisinya tentang Tuhan. Tendensi ini, sebenarnya sama dengan pengakuan Taufiq Ismail sendiri. Tahun 1984, ia memang pernah membuat pengakuan bahwa karya sastra yang ditulisnya adalah “sebuah zikir”.8
Artinya, melalui puisi-puisi yang ditulisnya, Taufiq hendak membawa para pembacanya mengingat Sang Pencipta. Prinsip yang demikian, menurutnya, dilandasi keinginan agar puisi yang ia buat masuk sebagai kategori “kesenian yang mengekspresikan keislaman”.
Tapi pengingatan Taufiq tak berarti bahwa dia hanya membuat puisi tentang Tuhan saja. Sebaliknya, Taufiq justru lebih banyak membuat puisi berdasar realitas sosial yang ia hadapi. Justru dengan membahas persoalan-persoalan sosial dalam puisinya, secara tak langsung Taufiq ingin membawa pembacanya menyadari kehadiran Tuhan.
Pada titik inilah saya ingin menyebut kecenderungan dalam puisi-puisi religius Taufiq sebagai “zikir sosial”: ia hendak mengajak masyarakat luas mengingat Tuhan, bukan dengan jalan menyebut kata-kata tertentu dalam bilangan yang khusus, tapi dengan melihat berbagai realitas sosial yang timpang dalam masyarakat.
Zikir sosial itu, pada hakekatnya merupakan ekspresi dari Islam. Taufiq memang terlihat amat berhasrat mengekspresikan keislaman dalam karya seni yang ia hasilkan. Hasrat yang demikian timbul karena adanya kesadaran bahwa dirinya hendak menjadi seorang muslim yang kaffah atau total.
Muslim yang kaffah, kata penyair kelahiran Bukittinggi itu, bukan hanya muslim yang melafalkan syahadat, melaksanakan sholat, menunaikan puasa, mengeluarkan zakat, atau pergi beribadah haji. Muslim yang total bukan hanya melaksanakan rangkaian formalitas ibadah saja, tapi senantiasa kehidupannya bernaung di bawah panji Islam.
Maka, bagi Taufiq yang hendak menaruh hidupnya di bawah panji agama yang dianutnya, kesenian yang ia produksi pun harus berada dalam naungan Islam. Totalitas kehidupan Taufiq memang diarahkan pada sebuah kehidupan di luar dunia ini: sebuah kehidupan yang dipercaya oleh para pemeluk agama sebagai “kehidupan yang sebenarnya”.
Dalam sebuah kesempatan lain, Taufiq pernah mengatakan bahwa tujuannya menciptakan puisi adalah untuk beramal saleh.9 Baginya, hidup ini adalah sebuah sajadah yang terbentang dari kaki buaian sampai tepi lahat. Kegiatan utama dalam sajadah itu adalah shalat. Kegiatan lain hanya semacam penyela dari shalat. Tapi, yang penting pula adalah bagaimana mentransformasikan kegiatan sehari-hari agar menjelma menjadi derivasi dari shalat.
Akherat, itulah tujuan kesenian Taufiq. Cuma, mencapai akherat bukan berarti meninggalkan dunia. Maka, berbeda dengan kecenderungan puisi sufistik yang menekankan pada ekspresi religius saat melakukan interaksi personal dengan Tuhan serta berusaha menghindari narasi tentang dunia, puisi Taufiq justru menggunakan dunia sebagai kendaraan menuju Tuhan.
Bagi Taufiq, tugas manusia sebagai khalifah di dunia menunjukkan bahwa manusia sama sekali tidak boleh meninggalkan dunia. Melalui kehidupan sosial, yaitu interaksi manusia dengan sesamanya dan dengan makhluk Tuhan yang bukan manusia, seorang manusia bisa berangkat melakukan pendekatan terhadap Tuhan. Di sini, kecenderungan puisi Taufiq sebagai zikir sosial makin terasa.
Salah satu interaksi sosial yang juga bisa dianggap sebagai jalan pendekatan kepada Tuhan adalah pembelaan terhadap orang-orang yang lemah. Taufiq Ismail menyadari hal yang demikian. Ia menyadari bahwa usaha membela kaum tertindas dari kezaliman yang menimpa mereka bukan hanya sebuah kerja demi kemanusiaan, tapi sekaligus juga demi keimanan dan pengabdiannya pada Tuhan.
Kesadaran ini pula yang membuatnya menulis puisi “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu”: Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh/ menderu, serasa pasir dan batu bata dinding kamartidurku/ bertebaran di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan/ mengepulkan debu yang berdarah,//.../Palestina, bagaimana aku bisa melupakanmu,// Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka,/ menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma, lalu dipatahi/ pergelangan tangan dan lengannya...// Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu/ Tanahku jauh, bila diukur kilometernya beribu-ribu/ Tapi azan Masjidil Aqsha begitu merdu/ Serasa terngiang-ngiang di telingaku.//
Puisi itu adalah sebuah pembelaan Taufiq terhadap penderitaan yang diderita masyarakat Palestina. Sebagai sesama muslim, jelas Taufiq sangat terpengaruh oleh perang di Palestina yang banyak menewaskan manusia. Kesadarannya sebagai sesama muslim, dan juga sebagai manusia yang berhati peka, membuat dia tak bisa melupakan apa yang terjadi di Palestina.
Puisi “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu” juga bagian dari sebuah zikir sosial. Ketika menciptakan puisi itu, Taufiq tak hanya sedang merenung sendirian saja tentang Palestina. Melalui puisi itu, ia memang hendak menyentil perasaan umat Islam lainnya. Taufiq sedang berkabar melalui puisi itu seperti kecenderungan umum puisinya—yang menurut Putu Wijaya—memang hampir selalu bertendensi menyampaikan kabar.10
Dalam puisi “Mendoakan Khatib Jum’at Agar Mendoakan”, tendensi zikir sosial juga hadir. Puisi tersebut seperti hendak mengingatkan para khatib yang berkhutbah dalam ibadah sholat Jumat agar senantiasa mendoakan manusia-manusia yang menderita karena perang, bencana alam, ataupun sebab yang lain.
Simak puisi tersebut: Berminggu-minggu debu Galunggung menyusupi kota-kota/ Beratus ribu saudara kita jatuh sengsara/ Di Kalimantan berjuta hektar hutan terbakar/...// Ada perang panjang di Palestina, Kashmir, Afghanistan, dan Filipina Selatan/ Beratus-ribu perempuan, lelaki, dan kanak-kanak digilas penderitaan/.../ Aku masuk sebuah masjid suatu Jum’at tengah hari/ Tak kudengar khatib mendoakan mereka/...// Mengapa khatib tak pernah mendoakan ummat yang miskin tertindas// Aku ingin kita sama-sama berdoa/ Mendoakan khatib-khatib setiap sebelum shalat Jum’at/ Di epan gerbang masjid kita masing-masing/ Agar mereka tidak lupa mendoakan penderitaan manusia/ ....//
Selain pembelaan terhadap kaum tertindas yang tak berdaya, kesadaran Taufiq tentang religiusitasnya juga dipengaruhi oleh keinsyafannya akan waktu yang terbatas bagi manusia. Penyair itu memang telah sampai pada kesadaran bahwa waktu yang dimiliki manusia untuk hidup memang sangat singkat. Karenanya, efisiensi penggunaan waktu hidup tersebut mesti diusahakan semaksimal mungkin.
Dalam MAJOI, kita bisa menemukan sebuah puisi yang mengekspresikan persoalan kematian secara tulus dan mendalam. Puisi yang berjudul “Sebuah Ziarah, ke Kubur Sendiri” adalah puisi yang secara khusus bicara dengan nada reflektif yang mendalam tentang kematian yang akan dialami penyairnya kelak.
Puisi yang didekasikan untuk orang tua Taufiq yang telah banyak membimbing kehidupannya itu antara lain berbunyi: ....Dalam ribuan saf yang amat teratur membelintang/ Antara Arafah dan Muzdalifah/ Aku membungkuk sedikit/ Mengintip kuburku/ Apa jenis tanahku/ Apakah tanah khatulistiwa/...// Di bawah kemah di Arafah/ Diterjang panas 50 derajat/ Hamba letakkan tulang-belulang hamba/ Sejajar sumbu bumi/ Hamba terbaring/ Mayat hamba terbaring/ Ini sebuah simulasi/...//
Sebagai seorang seniman, Taufiq menyadari bahwa “masa dinas” kesusastraan yang ia miliki sangat pendek. Ia hanya akan memiliki waktu untuk aktif bersastra beberapa puluh tahun saja. Maka, segala potensi yang ia miliki mesti diarahkan pada pencapaian “tugas” kesenimanannya, yaitu menciptakan keindahan.
Tapi, keindahan ala Taufiq bukan sekadar keindahan. Keindahan, baginya, selalu harus dikaitkan dengan Tuhan yang Maha Pencipta. Mungkin saja sebuah ekspresi bisa dianggap indah dengan ukuran manusia. Tapi, dalam ukuran Tuhan, keindahan itu barangkali tak ada artinya. Maka, segala usaha pencapaian keindahan, menurut Taufiq, adalah sebuah upaya “meniru Keindahan-Nya”.
Tentu saja, upaya “peniruan” itu tak akan mencapai kualitas yang sempurna. Artinya, tak mungkin manusia mampu menyamai keindahan yang diciptakan Tuhan. Tapi, dengan demikian bukan berarti upaya “peniruan” itu harus segera ditinggalkan. Justru dengan kesadaran untuk melakukan “peniruan” itulah manusia berusaha sedekat mungkin dengan Zat yang telah menciptakannya itu.
Meski waktu untuk melakukan upaya itu juga sangat terbatas, tapi usaha tersebut, bagi Taufiq, tetap mesti dilakukan. Dengan kesadaran untuk melakukan “peniruan” atas keindahan yang diciptakan Tuhan itulah Taufiq berpuisi.

/6/
Keinginan melakukan zikir sosial, amal saleh, dan peniruan terhadap keindahan Tuhan adalah tiga pokok penting dalam puisi-puisi Taufiq Ismail. Ketiganya pula yang membuat Taufiq mendudukkan diri sebagai penyair yang jelas-jelas berpihak.
Dalam sebuah catatan kebudayaan yang ia tulis di Majalah Horison, Taufiq mengatakan bahwa “betapa pun sukar dan seperti mustahilnya, tetap kita menyeru kebaikan melawan kemunkaran”.11 Seruan itu, selain karena keyakinannya sebagai muslim yang kaffah, tentu saja dilatari oleh kondisi Indonesia yang banyak mengalami kesulitan hidup dalam lapangan moral, politik, dan ekonomi.
Puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” adalah penjelasan paling gamblang dan masuk akal tentang salah satu dorongan kenapa akhirnya Taufiq Ismail memilih jalan sebagai penyair yang terlibat dalam gerak amar ma’ruf nahi munkar.
Simak penggalan puisi tersebut: ...Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak/ Hukum tak tegak, doyong berderak-derak/ Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak/ .../ Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kaca mata/ Dan kubenamkan topi baret di kepala/ Malu aku jadi orang Indonesia.//
Sampai di sini, saya ingin mengambil kesimpulan bahwa puisi-puisi religius Taufiq Ismail bisa menjadi tak hanya karena tekad dia secara pribadi yang memang hendak menjadikan puisinya sebagai ekspresi keberagamaan, tapi juga karena pertemuannya dengan realitas sosial Indonesia yang penuh persoalan. Di situlah puisi Taufiq menjadi sebuah zikir sosial.


Baca Selengkapnya

Rabu, 04 November 2009

Situasi 1964 di Mata Hartojo Andangdjaja

oleh Asep Sambodja

1964

Di manakah akan kuselamatkan kini
suaraku yang lembut bernama puisi
ketika, seperti Brecht pernah berkata:
bicara tentang pohon pun hampir suatu dosa


di manakah akan kuselamatkan kini
suaraku yang sayup bernama puisi
ketika, seperti kini kita derita:
bicara tentang kebenaran adalah dosa

maka aku pun tahu kini
kenapa Voltaire dibenci
tinggal ia di Ferney, di bumi Swiss
jauh dari Perancis

maka aku pun mengerti
kenapa Pasternak sepi sendiri
dan Mayakowsky
akhirnya bunuh diri

Hartojo Andangdjaja adalah penyair yang ikut menandatangani Manifes Kebudayaan (Manikebu). Tahun 1964 merupakan tahun pelarangan Manikebu oleh Presiden Soekarno. Bisa dibayangkan posisi sastrawan Manikebu yang tertindas karena penguasa melarang adanya manifes yang lain selain Manifesto Politik yang telah dikeluarkan Bung Karno. Manikebu dilarang, antara lain, karena dinilai ragu-ragu terhadap revolusi, sehingga kelompok ini dianggap sebagai kontra revolusi. Dan karena itu pula diganyang oleh sastrawan-sastrawan Lekra yang pro Bung Karno.
Puisi “1964” memperlihatkan kesunyian atau keterasingan yang dirasakan oleh penyair. Sebagai salah satu penandatangan Manikebu, tentu saja Hartojo Andangdjaja merasa teraniaya. Ia belajar dari sastrawan-sastrawan dunia seperti Bertold Brecht, Voltaire, Boris Pasternak, dan Vladimir Mayakowsky. Hartojo Andangdjaja merasakan kehidupannya tidak jauh berbeda dengan kehidupan sastrawan-sastrawan itu, karena memiliki pandangan yang berbeda dengan penguasa pada zamannya.
Bertold Brecht adalah penyair dan dramawan terkemuka asal Jerman. Ia menjadi komunis setelah mempelajari Das Kapital Karl Marx. Brecht sempat berurusan dengan pemerintah komunis Jerman Timur karena puisinya yang mengkritik penguasa. Dalam sebuah puisinya, “Kepada Angkatan Mendatang”, Brecht menulis, “Zaman apakah ini, ketika bicara tentang pohon dianggap kejahatan.” Pada 1950, ia meninggalkan Jerman Timur dan menjadi warga negara Austria.
Voltaire adalah sastrawan terkemuka Prancis yang sering diasingkan gara-gara kritik dalam karyanya. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Candide. Voltaire dinilai menanam benih-benih ateisme. Ia dituduh telah mempengaruhi publik Prancis dengan pikiran-pikirannya hingga meletus Revolusi Prancis 1789 dan mengantar Raja Louis XVI ke tiang guillotine. Akibat tulisannya yang tajam pula ia diasingkan ke sebuah desa kecil Ferney, di pinggiran Prancis. Tapi, Voltaire memiliki keyakinan sendiri, sebagaimana yang dikatakannya kepada Jean-Jacques Rousseau, “Kalau ada orang yang pantas mengeluh karena karya sastra, sayalah orangnya, karena sepanjang waktu dan di semua tempat, karya-karya sastra itu selalu membuat saya dikejar-kejar orang. Namun kita wajib mencintainya, walaupun sering disalahgunakan orang, seperti kita harus mencintai pergaulan di masyarakat, yang kehangatannya selalu dikacaukan oleh begitu banyak orang jahat; sebagaimana kita juga wajib mencintai tanah air, walaupun penuh dengan ketidakadilan; sebagaimana kita harus tetap mencintai dan mengabdi kepada Tuhan yang maha agung, walaupun prasangka dan fanatisme begitu sering mengotori pemujaannya.”
Boris Pasternak adalah sastrawan Rusia yang meraih hadiah Nobel pada 1958. Ia menolak pemberian Nobel itu akibat desakan pemerintahnya. Penyair dan novelis ini dikenal di dunia melalui karyanya Dr. Zhivago (1957), yang mengisahkan Revolusi Rusia dari sisi yang lebih sentimental. Di Uni Soviet, novel itu dilarang beredar. Di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer juga menyerukan agar novel yang diterjemahkan Trisno Sumardjo itu tidak bebas beredar.
Sementara Vladimir Mayakowsky adalah sastrawan Rusia yang beraliran futurisme yang paling terkenal. Pada tahun 1926, ia menulis sebuah puisi: “Aku tidak ingin seperti kelopak bunga, yang tanggal sehabis pagi, dan menjadi percuma!” Empat tahun kemudian, ketika ia disisihkan dari masyarakat karena mengkritik penguasa, ia bunuh diri dengan menembakkan pistol ke kepalanya.
Saya sengaja menguraikan latar belakang sastrawan-sastrawan dunia yang diacu oleh Hartojo Andangdjaja untuk bisa memahami dengan baik puisi “1964”. Sastrawan dunia yang dijadikan acuan itu pada dasarnya mengalami keterasingan. Dan perasaan gelisah itu pula yang muncul pada diri penyair. Kita tahu bahwa pada 1964, suara yang mendominasi di seantero republik ini adalah seruan untuk revolusi, yang sering digemakan oleh sastrawan-sastrawan Lekra yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Presiden Soekarno—yang memegang kendali Demokrasi Terpimpin. Karena itu, wajar kalau ada suara penyair yang merasa dipinggirkan. “Di manakah akan kuselamatkan kini, suaraku yang lembut bernama puisi.”


Baca Selengkapnya

Taufiq Ismail, Janji untuk Bertindak, dan Komunitas Terbayang

(Membaca Kumpulan Puisi Tirani dan Benteng)
Oleh: Haris Firdaus
/1/
Membaca puisi Taufiq Ismail tak mungkin melepaskan diri dari kesadaran personal penyair itu. Kesadaran personal Taufiq berangkat dari penghayatan sosial karena ia selalu melakukan apa yang oleh Suminto A Sayuti disebut sebagai “transpersonalisasi atau transubyektivikasi kehidupan.” Melalui puisi, Taufiq menggubah pengalaman individualnya menjadi pengalaman sosial yang bisa dinikmati pembacanya. Karena itu pula, unsur komunikasi sangat penting dalam puisi Taufiq walaupun itu tak berarti ia mengabaikan estetika.


Meski tak mengelakkan adanya unsur subyektivitas dalam puisi-puisinya, Taufiq lebih banyak membuat puisi berdasar kenyataan sosial di sekelilingnya. Suminto A Sayuti bahkan menyebut sebagian puisi Taufiq Ismail sebagai “saksi sejarah”. Sebagai saksi sejarah, puisi Taufiq senantiasa hadir mengalir di tengah masyarakat pembaca sastra. Bahkan secara tersurat ataupun tersirat, dalam proses penulisan maupun proses sosialisasi karyanya, ia tak pernah lelah untuk menegur dan mengkritisi kenyataan sejarah.2
Puisi-puisi Taufiq yang bisa dianggap sebagai kesaksian sejarah adalah terutama puisi-puisi dalam Kumpulan Puisi Tirani dan Benteng, diterbitkan Yayasan Ananda tahun 1993. Tirani dan Benteng merupakan gabungan dari dua kumpulan puisi Taufiq sebelumnya, yaitu Kumpulan Puisi Tirani dan Kumpulan Puisi Benteng yang keduanya pertama kali terbit pada 1966. Kumpulan Puisi Tirani dan Benteng juga memuat puisi-puisi “Menjelang Tirani dan Benteng”.3
Sebagai “kesaksian sejarah”, Tirani dan Benteng tentu banyak menggambarkan kondisi bangsa Indonesia pada saat puisi-puisi dalam kumpulan tersebut dibuat, yaitu sekitar pertengahan tahun 1960-an. Tahun-tahun tersebut adalah tahun di mana bangsa Indonesia sedang mengalami banyak cobaan. Pemberontakan Partai Komunis Indonesia yang didahului dengan persaingan politik yang tajam antara kelompok kepentingan politik yang ada, dibarengi dengan kenaikan harga dan inflasi membuat kondisi Indonesia saat itu bisa disebut dalam situasi krisis.
Kesadaran personal Taufiq dalam Tirani dan Benteng dipengaruhi kontestasi politik dan kebudayaan sejak tahun 1950-an sampai 1960-an. Esai ini hendak melakukan pembacaan terhadap Kumpulan Puisi Tirani dan Benteng dengan mengaitkan teks-teks di dalamnya dengan kondisi sosial saat itu dan penghayatan personal Taufiq Ismail atas kondisi sosial tersebut. Pengaitan ini terutama didasari atas tatapan paradigma kritis dalam ilmu sosial yang melihat teks bukan sebagai barang beku yang terpisah dari konteks sosial yang melingkupinya. Teks, dalam paradigma kritis, adalah tempat di mana tarik-menarik kekuasaan terjadi.4

/2/
Pada 21 Februari 1957, di hadapan sejumlah pemimpin partai dan tokoh masyarakat, Presiden Soekarno mengabarkan sebuah gagasan tentang persoalan politik mutakhir yang kelak populer dengan sebutan “Konsepsi Presiden Soekarno” atau “Konsepsi Soekarno”. Ada tiga hal pokok yang merupakan inti pemikiran Soekarno tersebut: (1) sistem demokrasi parlementer ala barat—yang tak sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia—mesti diganti dengan demokrasi terpimpin; (2) untuk melaksanakan demokrasi terpimpin, perlu dibentuk kabinet gotong royong yang anggotanya mewakili parpol yang ada; (3) pembentukan Dewan Nasional—yang anggotanya terdiri dari golongan fungsional dalam masyarakat—dengan tugas memberi nasehat pada anggota kabinet.5
Konsepsi Soekarno itu kemudian menandai tonggak baru dalam dunia politik Indonesia di mana kekuasaan presiden menjadi hampir tak berbatas. Namun, pada hakekatnya, kekuasaan Soekarno itu dipengaruhi oleh dua kekuatan politik utama, yaitu PKI dan TNI AD, dua kekuatan yang saling bersaing. Mengenai siapa di antara keduanya yang lebih dominan, Daniel Dhakidae dan Iwan Simatupang berselisih paham. Daniel lebih melihat TNI AD sebagai kekuatan dominan—bahkan menyebut saat itu telah terjadi “kedikatoran militer” di Indonesia—sedangkan Iwan melihat bahwa PKI—dan juga RRC—adalah kekuatan utama yang mengendalikan Soekarno.6
Pada 17 Agustus 1959, Soekarno kembali menyampaikan pemikirannya guna mendukung demokrasi terpimpin yang dikenalkannya dan sebelumnya telah dimantapkan dengan lahirnya Dekrit Presiden. Gagasan Soekarno itu disampaikan dalam pidato yang berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita”. Pidato itu kemudian lebih dikenal sebagai Manifes Politik atau Manipol.
Ketika Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) mengadakan kongres di Bandung pada Juli 1960, Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) mengusulkan agar Manipol diterima sebagai landasan kerja BMKN. Usulan itu ditolak dan kemudian Lekra mulai menjauh dari BMKN.
Pada tahun 1961, mulailah sebuah konfrontasi di bidang kebudayaan—khususnya sastra—dengan keluarnya pendapat Bakri Siregar, salah seorang dedengkot Lekra, tentang “Sastra Indonesia dan Revolusi Agustus”. Saat itu, Bakri menuduh Chairil Anwar, HB Jassin, Idrus, dan beberapa sastrawan lainnya sebagai orang yang tak mendukung revolusi kemerdekaan Indonesia. Mereka dicap sebagai penganut humanisme universal yang akhirnya meniadakan sikap nasionalisme dan pemihakan pada revolusi. Bakri juga menyinggung cerpen-cerpen beberapa pengarang yang ia anggap reaksioner karena selalu menyudutkan perjuangan buruh dan tani.7
Tahun-tahun selanjutnya, ketegangan antara Lekra dengan pengarang-pengarang yang tak seide dengan organisasi itu tak terhindarkan. Dimulai dengan tuduhan plagiat yang dialamtkan pada Hamka, sampai kemudian memuncak dengan keluarnya Manifes Kebudayaan—yang beberapa bulan berselang dilarang oleh Bung Karno—suasana kebudayaan saat itu memang benar-benar panas. Iwan Simatupang bahkan menggambarkan bahwa rasa kebencian antar golongan yang timbul saat itu adalah sebuah kebencian yang sangat akut dan bahkan belum pernah dikenal dalam “sejarah kebencian di Indonesia”.8
Yang khas dari persaingan ide dalam kebudayaan saat itu—antara “realisme sosialis” Lekra dan “humanisme universal” Manifes Kebudayaan—adalah adanya pengaruh kekuasaan. Berbeda dengan polemik tahun 1930-an antara Sutan Takdir Alisjahbana dan lawan-lawannya, berbeda pula dengan polemik tahun 1950-an—yang pada hakekatnya merupakan “pengulangan” dari polemik tahun 1950-an—polemik tahun 1960-an adalah polemik yang, meminjam kata-kata Daniel Dhakidae, “justru di sarang kekuasaan itu sendiri dan malah boleh dikatakan bahwa kekuasaanlah yang menentukan jalan pertikaian itu”.9
Di tengah kondisi yang demikianlah Taufiq Ismail berada dan mulai menemukan identitasnya sebagai pemuda, mahasiswa, calon dokter hewan, orang yang taat agama, sekaligus penggemar sastra. Pada tahun-tahun itu, Taufiq sedang belajar di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia. Di tengah kepadatan jadwal dan rutinitas eksaknya, ia mulai mencari penghiburan pada sastra, utamanya puisi.
Taufiq bergaul dengan beberapa sastrawan dan pemikir Indonesia terutama yang ada di Jakarta. Ia menyimak diskusi tentang marxisme dan leninisme dengan beberapa tokoh sastra terkemuka Indonesia seperti Arief Budiman, Goenawan Mohamad, HB Jassin, Wiratmo Soekito dan lain-lain. Diskusi dan pertemuan Taufiq dengan para cendekiawan itu kelak akan berpengaruh pada biografi dia baik dilihat dari sisi politik maupun sastra.10
Pada saat itu, Taufiq telah mulai menulis puisi. Puisi-puisinya mulai awal 1960-an sampai 1965 terhimpun dalam bab “Puisi-puisi Menjelang Tirani dan Benteng” dalam Buku Tirani dan Benteng. Kebanyakan puisi yang dibuat dalam periode itu—berdasar pengakuannya sendiri—banyak bercerita tentang “kecemasan, kesangsian, kebebasan, harapan, angan-angan, cita-cita dan tekad.”11
Tema-tema yang menyeruak dalam puisi periode itu bisa dianggap sebagai tema “umum” yang biasa digarap penyair dalam kondisi apapun, dan bukan merupakan monopoli Taufiq. Tapi, dalam periode ini, pandangan politik Taufiq mulai terasa dalam sejumlah kecil sajaknya. Saya kira, itulah asal mula puisi Taufiq bisa dianggap sebagai sebuah “multiteks”: sebagai teks sastra, teks sejarah, sekaligus teks politik.
Tendensi “multiteks” dalam puisi-puisinya itu tentu terbentuk dari suasana jaman yang penuh dengan pergolakan. Ketika lulus pada tahun 1963 dari Universitas Indonesia, Taufiq menghadapi sebuah kenyataan yang dirasainya pahit. Ia mengaku bahwa saat itu ia lulus “dengan rasa kacau menyaksikan pencengkeraman ekspresi di seluruh negeri”.12 Rasa kacau itu makin memuncak ketika PKI mulai melakukan manuver dalam bidang kebudayaan dengan melakukan pengganyangan terhadap tokoh yang dianggap berseberangan dengan mereka.
Kegemaran Taufiq pada puisi, bertemu dengan aspirasi politiknya sebagai kaum muda, dan keimanannya sebagai penganut Islam yang teguh. Pada pertemuan antara tiga kecenderungan dalam dirinya itulah lahir sejumlah puisi “multiteks” yang tak hanya melulu bisa ditempatkan sebagai “teks sastra”.
Puisi “Catatan Tahun 1965” adalah cikal-bakal dari apa yang saya sebut sebagai “multiteks” itu. Puisi tersebut dengan jelas menunjukkan aspirasi politik Taufiq dan kecenderungannya menjadikan puisi sebagai “saksi sejarah”—sekaligus pula menampakkan posisi spiritualnya—yang dibalut dengan kemahirannya mengolah kata menjadi puisi.
Simak “Catatan Tahun 1965”: Di lapangan dibakari buku/ Mesin tikmu dibelenggu/ Piringan hitam dipanggan/ Buku-buku dilarang/ Kita semua diperanjingkan/ .../ Hamka diludahi Pram/ Masuk penjara Sukabumi/ Jassin dicaci diserapahi/ Terbenam daftar hitam/ Usmar dimaki Lentera/ Sudjono dicangkul BTI/ Nasakom bersatu apa/ Umat dibunuhi di desa/ Kanigoro bagaimana lupa/ Kus Bersaudara dipenjara/ Mochtar diterungku/ ... / Rebutan beras antrian/ .../ Inflasi saban pagi/ Pidato tiap hari/ Maki-maki sebagai gizi/ Bahasa carut diperluaska / ... / Warna merah dikibarkan/ .../ Pawai genderang digenderangkan/ Kolone kelima disusupkan/ .../ Matine Gusti-Allah dipentaskan. //
Puisi itu dibuat Taufiq setelah menyaksikan Pawai HUT PKI pada 23 Mei 1965. Saat itu memang terjadi penyerangan dalam bidang seni dan budaya oleh simpatisan PKI terutama yang ada di Lekra. Dalam dua puisi pendeknya yang berjudul “2 September 1965, Pagi” dan “2 September 1965, Senja”, Taufiq juga merekam tentang keterkekangan dalam bersuara: Cinta pada kebebasan/ Adalah cinta terlarang/ Hari ini.// (Puisi “2 September 1965, Pagi”); dan juga Kemerdekaan masih bertahan/ Kemerdekaan untuk diam/ Senja ini.// (Puisi “2 September 1965, Senja”)
Selain dipengaruhi oleh pertentangan politik, kesadaran personal Taufiq juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi Indonesia yang terpuruk saat itu. Ia gelisah ketika tahu bahwa panen kentang milik kakaknya di Desa Pandai Sikek, Padang Panjang, ternyata gagal. Saat itu, hama tanaman menyerang banyak ladang pertanian, kelaparan timbul di mana-mana, jumlah pengemis di Jakarta meningkat drastis, dan harga barang kebutuhan pokok naik berlipat-lipat.13
Kondisi perekonomian yang sulit itulah yang kemudian diabadikan Taufiq dalam “Syair Orang Lapar”: Lapar menyerang desaku/ Kentang dipanggang kemarau/ Surat orang kampungku/ Kuguratkan kertas/ Risau// Lapar lautan pidato/ Ranah dipanggang kemarau/ Ketika berduyun mengemis/ Kesinikan hatimu/ Kuiris//...//
Setelah Gerakan 30 September meletus, Taufiq menulis “Oktober Hitam”, sebuah puisi yang menggambarkan kedukaan akibat terbunuhnya beberapa perwira penting di Angkatan Darat: Atap-atap gunung/ Dan daratan/ Meratap/ Ke mega gemulung/ Mata yang duka/ Menatap/ Sepanjang pagi murung/ Angin yang nestapa/ Berdesah/ .../ Tujuh lelaki/ Telah mati/ Pagi itu/ ...// Darah Ade, anak perempuan mungil itu/ Menetes sepanjang tongkat ayahnya/ Yang bertelekan di kuburan/ Menahan berat beban cobaan/ Tapi tetap tegak bertahan/...// Fajar kelabu/ Fajar kelam/ Pagi Pembunuhan/ Pagi yang hitam/...//.

/3/
Meletusnya peristiwa yang menelan korban tujuh perwira TNI Angkatan Darat, meminjam terminologi DS Moeljanto, adalah “akhir dari sebuah kemelut”.14 Tapi, Moeljanto tak selamanya tepat: sejarah membuktikan ketika rakyat Indonesia keluar dari sebuah kemelut pada Oktober 1965 itu, mereka pun sebenarnya sedang masuk dalam kemelut baru yang jauh lebih rumit. Relasi PKI—dan juga Lekra—dengan peristiwa itu tentu saja tak menguntungkan. PKI dianggap mendalangi peristiwa yang selama bertahun-tahun dikekalkan namanya menjadi “G30S/PKI” itu.
Lalu “pengganyangan” balik pun terjadi. Kekuatan anti komunis berkonsolidasi. Kaum muda bergerak. Didukung TNI AD, kesatuan aksi mahasiswa, pelajar, serta organisasi profesi lainnya bermunculan.15 Pada akhirnya, kebencian pada komunisme bertransformasi menjadi kebencian pada kebatilan, kesewenang-wenangan, dan kerakusan kuasa yang dimiliki pejabat pemerintah. Dibumbui oleh kondisi ekonomi yang hancur seperti gelas yang dibanting ke lantai, demonstrasi, protes, sekaligus huru-hara adalah pandangan wajar di Indonesia kala itu.
Taufiq Ismail, sekali lagi, dihadapkan pada kondisi politik yang kacau, sekaligus “menggairahkan” karena kondisi yang demikian merangsang naluri mudanya untuk ikut bergerak, ikut bertindak. Maka, kita dapati kenyataan bahwa Taufiq—yang saat itu sudah tiga tahun tidak lagi berstatus mahasiswa—ikut dalam aksi yang dirancang dan diprakarsai Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI).16
Selama mengikuti demonstrasi itulah Taufiq mencatatkan pengalamannya dalam bentuk puisi. Kumpulan puisi Taufiq yang berisi cerita-cerita demonstrasi pertama kali terbit tahun 1966 atas prakarsa Arief Budiman dengan judul Tirani. Menyusul kemudian adalah kumpulan puisi Benteng yang masih bercerita tentang demonstrasi tapi lebih banyak mengambil setting di Kampus UI Salemba. Sebagai seorang yang terlibat dalam praksis politik saat itu, kita bisa memahami kenapa puisi Taufik dalam Tirani dan Benteng condong pada salah satu pihak dalam pergolakan itu, yaitu mahasiswa, kaum muda, dan rakyat kebanyakan yang tersengsarakan oleh keadaan.
Seperti telah dikemukakan, puisi-puisi Taufiq, termasuk dalam periode ini, memang menampakkan diri sebagai sebuah “multiteks”: sebuah teks yang kompleks sekaligus tidak utuh satu sama lain dalam bagian-bagiannya. Tapi, dalam pengamatan saya, teks politik mulai mendominasi entitas “multiteks” tersebut. Maka, beda dengan tinjauan Suminto A Sayuti yang cenderung hanya menempatkan puisi-puisi dalam Tirani dan Benteng sebagai “saksi sejarah”, saya cenderung lebih memilih menempatkan puisi-puisi dalam kumpulan itu sebagai sebuah teks politik.17
Alasannya, puisi-puisi Taufiq tidak hanya “mencatat peristiwa”, tapi juga sekaligus berperan dalam peristiwa politik saat itu. Teks puisi Taufiq bukan berhenti jadi dokumentasi saja tapi juga memainkan peranan dalam peristiwa politik saat itu. Sikap ngotot Arief Budiman untuk menerbitkan puisi Taufiq yang dibuatnya pada masa awal demonstrasi besar-besaran saat itu, menunjukkan bahwa puisi-puisi tersebut adalah bagian yang tak terpisahkan dari sejarah penumbangan orde lama menuju orde baru.
Selain itu, seperti yang akan saya buktikan kemudian, puisi-puisi Taufiq dalam Tirani dan Benteng ternyata mengandung muatan-muatan politis yang tidak kecil serta tidak bisa dianggap remeh pada saat itu.

/4/
Ketika Taufiq mulai menulis puisi dalam Tirani dan Benteng, hubungan antara sastra dan politik tentu saja masih hangat. Taufiq tentu paham bahwa menempatkan “politik sebagai panglima” bagi sajak-sajaknya akan berakibat buruk. Maka, saya meyakini—sembari sedikit berbeda pandang dengan Subagio Sastrowardoyo—bahwa mewujudnya puisi-puisi Taufiq sebagai sebuah teks politik tak serta merta membuat teks-teks tersebut menjadi menyempit, paling tidak Taufiq tak berkehendak menyempitkan sajak-sajaknya.18 Subagio, ketika menelaah sajak-sajak perlawanan Taufiq saat itu melupakan satu hal yang penting: konteks sosial.
Dalam tatapan ilmu sosial berparadigma kritis yang sejarah mulanya bisa kita runut sampai Mazhab Frankfurt di Jerman, bahasa bukanlah wujud yang bisa dipisahkan dari konteks sosial. Praktek berbahasa seorang manusia, pada akhirnya, akan dibentuk oleh—sekaligus membentuk—kondisi serta struktur sosial yang ada.19 Pada pendirian ini pula, sebuah puisi—sebagai wujud dari praktek berbahasa—akan dipengaruhi oleh kondisi serta praktek sosial yang ada di sekeliling penyair. Maka, pembahasan puisi-puisi Taufiq tanpa melihat konteks sosial saat puisi-puisi itu terbit berpotensi pada pengambilan kesimpulan yang sempit.
Dalam memandang Taufiq, saya lebih banyak bersepaham dengan HB Jassin. Dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Angkatan 66 dan Sajak Sepi”, Paus Sastra Indonesia itu menyebut bahwa kita tidak hanya membutuhkan “sajak-sajak sepi” yang berakar dari pelepasan diri individu dari dekapan masyarakatnya.20 Dunia juga membutuhkan sajak-sajak yang merupakan hasil dari “lapangan hidup perjuangan”. Dari lapangan hidup perjuangan itu pula, kata Jassin, telah terlahir seniman-seniman yang jujur. Maka, kalau Subagio menganggap sajak-sajak Taufiq dalam Tirani dan Benteng “sama keadaanya” dengan sajak-sajak penyair Lekra, Jassin menolak anggapan itu.
Jassin bertanya, tapi kalimat tanyanya lebih mirip gugatan: “Apakah isi makna keadilan dan kebenaran pada AS. Dharta dan Taufiq Ismail sama? Dan apakah intensitas dan kesungguhan pada keduanya sama?” Kalau diperkenankan menjawab pertanyaan Jassin pada 1972 itu, saya akan dengan tegas menjawab: “Tidak!”
Bagi Jassin, “Kita tidak perlu seperti Lekra mencemoohkan seniman yang menutup diri di menara gading sebagai manusia borjuis—mereka pastilah dapat sampai pada pikiran-pikiran yang tinggi dan abadi—, tapi janganlah orang menuntut pula supaya kita sama sekali meninggalkan lapangan hidup perjuangan....”
Hubungan antara sastra, manusia, dan politik, pernah dengan sangat baik dibahas Wiratmo Soekito.21 Wiratmo, dengan diawali pembedahan pada konsep “seni untuk seni” dan “seni untuk masyarakat”, sampai pada satu kesimpulan: manusia adalah makhluk yang pada hakekatnya selalu “berkeingin untuk bertindak”. Maka, baik “seni untuk seni” maupun “seni untuk masyarakat”, kalau ia dicipta secara sungguh-sungguh pastilah merupakan sebuah perwujudan konkret dari engagement: semacam “janji untuk bertindak”.
Politik adalah sesuatu yang mengandung ambivalensi dalam dirinya. Di satu pihak, ia dihayati oleh semua manusia, tapi di lain pihak politik (berpotensi) melakukan pembinasaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Pada ambivalensi politik inilah sejarah peradaban manusia terhadapkan. Taufiq Ismail, tak luput dari perjumpaan yang demikian. Ia mengalami sendiri bagaimana politik ternyata mengakibatkan, dalam kata-kata Wiratmo, “korupsi terhadap dasar dan kondisi hidup manusia”. Politik yang demikian, lagi-lagi dalam bahasa Wiratmo, adalah “suatu politik perkosaan”.22 Menghadapi “politik perkosaan”, adakah Taufiq Ismail diam saja?

/5/
Seperti dikatakan Wiratmo, seni yang baik—apapun falsafah seni yang mendasarinya—adalah manifestasi dari engagement atau “janji untuk bertindak”. Dan, bagi saya, puisi-puisi Taufiq adalah perwujudan dari janji untuk bertindak itu. Transformasi dari sekedar “janji” menjadi puisi, menurut saya, terjadi karena Taufiq menghadapi semacam “politik perkosaan” di hadapannya. Sebagai seorang yang besar dari latar belakang agama yang kuat serta memiliki kesadaran sosial yang tinggi, wajar kalau Taufiq kemudian melawan “politik perkosaan” yang ia anggap merugikan—bukan hanya dirinya, tapi terlebih lagi bagi—orang banyak itu.
Maka, sebuah sajak Taufiq yang berjudul “Dengan Puisi, Aku” menandaskan tekad Taufiq untuk menjadikan puisinya sebagai manifestasi dari janji untuk bertindak: Dengan puisi aku bernyanyi/ Sampai senja umurku nanti/ Dengan puisi aku bercinta/ Berbatas cakrawala/ Dengan puisi aku mengenang/ Keabadian Yang Akan Datang/ Dengan puisi aku menangis/ Jarum waktu bila kejam mengiris/ Dengan puisi aku mengutuk/ Nafas zaman yang busuk/ Dengan puisi aku berdoa/ Perkenankanlah kiranya.//
Puisi itu dibuat tahun 1965, seolah disiapkan sebagai semacam “alasan” atau “kredo” bagi puisi-puisi Taufiq yang ia buat di sekitar peristiwa demonstrasi tahun 1966. Dengan merujuk pada puisi itu, kita bisa memahami kenapa akhirnya Tufiq memutuskan membuat “puisi-puisi protes” pada tahun 1966.
Meski begitu, apa yang dinamakan dengan “puisi-puisi protes” Taufiq Ismail tetaplah berbeda dengan “puisi protes” para penyair Lekra. Sebab, pendasaran atas pilihan membuat “puisi protes” antara Taufiq dengan para penyair Lekra tentu saja berlainan.
Daniel Dhakidae pernah melakukan pengkajian sepintas terhadap puisi Sobron Aidit yang berjudul “Kepalaku Marxis, Diriku Leninis” dan menemukan bahwa puisi tersebut mengalami paradoks di dalamnya.23 Puisi itu, kata Daniel, telah “menundukkan” universalime marxisme ke dalam partilukarisme partai. Artinya, dalam puisi tersebut, “kebenaran universal” yang menjadi dasar penciptaan puisi telah ditafsirkan secara sepihak dan sempit menjadi sama dengan kepentingan sebuah kelompok yang amat terbatas.
Pada Taufiq, saya tak menemukan kecenderungan yang demikian. Janji untuk bertindak yang menjadi dasar penciptaan puisinya mewujud dalam bahasa yang meskipun kadang sifatnya kategoris tapi tetap mengandung “universalitas”. Meski secara sengaja menempatkan puisi-puisinya sebagai bagian dari sebuah “perlawanan politik”, Taufiq tak seratus persen menghilangkan sifat universalitas dari puisi-puisinya.
Simak puisi berjudul “Sebuah Jaket Berlumur Darah” yang secara bagus menunjukkan tegangan antara bahasa kategoris dan sikap universal: Sebuah jaket berlumur darah/ Kami semua telah menatapmu/ Telah berbagi duka yang agung/ Dalam kepedihan bertahun-tahun/ Spanduk kumal itu, ya spanduk itu/ Kami semua telah menatapmu/ ...// Pesan itu telah sampai ke mana-mana/ Melalui kendaraan yang melintas/ Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan/ ... / Prosesi jenazah ke pemakaman/ Mereka berkata/ Semuanya berkata/ LANJUTKAN PERJUANGAN!//
Tak bisa dipungkiri, bahasa kategoris memang tampak lebih dominan dalam sajak tersebut. Simbol-simbol khusus seperti “jaket berlumur darah” dan “spanduk kumal” jelas menunjukkan bahwa puisi itu ditujukan untuk satu kelompok dengan kategori tertentu yang sanggup memahami simbol-simbol yang demikian. Namun, bertemunya kata “kami” dengan “mereka” dalam puisi-puisi itu menunjukkan bahwa sikap “universal” sebenarnya tak hilang sama sekali. .
Puisi “Sebuah Jaket Belumur Darah” juga menunjukkan tendensi Taufiq untuk melakukan komunikasi dengan pembaca sajak-sajaknya sebagai sebuah kelompok yang berdiri satu pihak dengan dia. Dengan mengintrodusir simbol-simbol perjuangan yang menggugah sekaligus menggunakan kata ganti jamak dalam sajak itu, Taufiq seolah hendak mengajak pembacanya membayangkan diri mereka berada dalam satu ikatan.
Pada titik ini, puisi Taufiq adalah ajakan untuk membentuk sebuah “komunitas terbayang”. Frasa “komunitas terbayang” saya pinjam dari Bennedict Anderson ketika dia mencoba melakukan penjelasan tentang konsep “bangsa”.24
Dalam pemahaman Bennedict, bangsa merupakan sesuatu yang “terbayang” karena para anggota bangsa terkecil sekali pun tidak bakal tahu dan takkan kenal sebagian besar anggota lainnya, tidak akan bertatap muka dengan mereka itu, bahkan mungkin tidak pula pernah mendengar tentang mereka. Namun meski demikian, di benak setiap orang yang menjadi bangsa itu hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan mereka.25
Sebuah kelompok yang mirip dengan bangsa—meski tentu saja lebih sempit— dalam pengertian Anderson itulah yang saya temukan dalam puisi-puisi Taufiq. Ketika membaca beberapa puisi Taufiq, saya seolah didorong untuk membayangkan sebuah kelompok, sebuah komunitas, yang secara apriori “sepihak” dengan saya. Atau, yang terjadi justru sebaliknya: saya didorong untuk melakukan pemihakan pada sebuah kelompok yang barangkali hanya ada dalam benak saya.
Dalam “Sebuah Jaket Berlumur Darah”, pembaca didorong untuk mengenali sebuah kelompok—yang diwakili kata “kami”—yang disatukan oleh simbol “jaket berlumur darah” dan “spanduk kumal”. Pada bagian akhir sajak, kelompok yang dibayangkan pembaca tadi diperluas dengan memperkenalkan “abang-abang beca” dan “kuli-kuli pelabuhan” sebagai “anggota baru” kelompok terbayang itu.
Dengan sebuah perbandingan yang tak terlampau ketat, puisi “Sebuah Jaket Berlumur Darah” memiliki tendensi yang sama dengan novel Jose Rizal, Noli Me Tangere, dan karya Mas Marco Kartodikromo, Semarang Hitam. Tendensi yang sama itu adalah tendensi dalam pembentukan sebuah komunitas terbayang meski latar sosial dari karya-karya itu tentu saja berbeda jauh.26
Sajak “Refleksi Seorang Pejuang Tua” juga mengajak pembaca melakukan pembayangan tentang sebuah kelompok: Tentara rakyat telah melucuti Kebatilan/ Setelah mereka menyimak deru sejarah/ Dalam regu perkasa mulailah melangkah/ .../ Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya/ Kecuali dua puluh tahun lalu/ ...//
Dalam sajak itu, sebuah komunitas terbayang itu bahkan diandaikan sama padunya dengan “bangsa” Indonesia yang pada tahun 1945 melakukan perjuangan mengusir penjajah. Dalam sajak “Bendera Laskar”, Taufiq menggunakan simbol sebuah bendera yang dikibarkan di halaman kampus guna menyatukan komunitas terbayang yang ia bangun.
Salah satu hal dominan yang dilakukan Taufiq dalam rangka menguatkan komunitas terbayang itu adalah dengan melakukan identifikasi dengan masyarakat kecil. Sajak “Karangan Bunga”, “Seorang Tukang Rambutan Pada Istrinya”, “Bendera”, dan “Oda Bagi Seorang Sopir Truk” adalah sajak-sajak yang menunjukkan kelompok masyarakat kecil seperti penjual rambutan, anak kecil, seorang ibu tua, dan sopir truk, sebagai bagian dari komunitas terbayang itu.
Sajak “Geometri”, “Aritmatika Sederhana”, dan “Mimbar” adalah sajak yang menciptakan jarak antara komunitas terbayang itu dengan sesuatu di luar dirinya. Di sini, lagi-lagi kita bisa mengidentikkan komunitas terbayang Taufiq dengan komunitas terbayang Anderson.
Menurut Anderson, bangsa sebagai komunitas terbayang adalah sesuatu yang terbatas, dalam artian memiliki pembeda dan jarak dengan komunitas terbayang lainnya.27 Tiga sajak Taufiq yang saya sebut tadi bisa dianggap sebagai ikhtiar untuk menciptakan pembeda sekaligus sebuah usaha membuat komunitas terbayang tadi sebagai sesuatu yang terbatas. Dengan model yang seperti ini, komunitas terbayang Taufiq makin mudah disatukan identitasnya.
Identitas yang dibangun sebagai sifat yang melekat dengan komunitas terbayang milik Taufiq adalah identitas sebagai pemikul beban sejarah untuk melakukan perubahan. Simak sajak “Horison”: Kami tidak bisa dibubarkan/ Apalagi coba dihalaukan/ Dari gelanggang ini// Karena ke kemah kami/ Sejarah sedang singgah/ Dan mengulurkan tangannya yang ramah/ ...//.
Simak pula sajak “Rendez-vous”: Sejarah telah singgah/ Ke kemah kami/ Ia menegur sangat ramah/ Dan mengajak kami pergi// “Saya sudah mengetuk-ngetuk/ Pintu yang lain,”/ Katanya/ “Tapi amat heran/ Mereka berkali-kali menolakku/ Di ambang pintu.”// Kini kami beratus-ribu/ Mengiringkan langkah Sejarah/ Dalam langkah yang seru/ ...//
Tapi puncak dari penegasan identitas itu adalah sajak ““Kemis Pagi”: Hari ini kita tangkap tangan-tangan Kebatilan/ Yang selama ini mengenakan seragam kebesaran/ Dan menaiki kereta-kereta kencana/ .../ Dengan suara lantang meperatas-namakan/ Kawula dukana yang berpuluh juta// Hari ini kita serahkan mereka/ Untuk digantung di tiang Keadilan/ ...//. Penegasan yang tak kalah kerasnya juga bisa kita temukan dalam puisi “Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini”.

/6/
Penegasan identitas dari komunitas terbayang itu ternyata tak serta merta membuat perjuangan melawan “politik perkosaan” menjadi serba mudah. Dalam beberapa puisinya, Taufiq dengan jelas melukis sekian kendala, sekian hal yang memberati perjuangan tadi. Puisi “Memang Selalu Demikian, Hadi” dan “Pengkhianatan Itu Terjadi Pada Tanggal 9 Maret” adalah dua puisi yang secara terus-terang menyoroti masalah-masalah dalam perjuangan, terutama soal pengkhianatan.
Barangkali karena hambatan-hambatan itu, perjuangan jadi tak terlampau sempurna. Dan karena itu pula sebuah perjuangan membutuhkan “estafet” untuk menjadikannya makin “sempurna”. Sebuah perjuangan yang belum sampai pada titik akhir inilah yang perlu dilanjutkan. Maka, Taufiq pun menulis: Momentum telah dicapai. Kita/ Dalam estafet amat panjang/ Menyebar benih ini di bumi/ Telah sama berteguh hati// Adikku, Kappi, engkau sangat muda/ Mari kita berpacu dengan sejarah/ Dan kini engkau di muka// (Sajak “Persetujuan”).
Estafaet itu juga tergambar dalam puisi ini: Jika adalah yang harus kaulakukan/ Ialah menyampaikan kebenaran/ Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan/ Ialah yang bernama kenyakinan/ Jika adalah yang harus kautumbangkan/ Ialah segala pohon kezaliman/ .../ Jika adalah kesempatan memilih mati/ Ialah syahid di jalan Ilahi.// (Puisi “Nasihat-nasihat Kecil Orang Tua pada Anaknya Berangkat Dewasa”).

/7/
Mewujudnya sebuah komunitas terbayang dalam puisi Taufiq Ismail membuktikan asumsi saya bahwa puisi Taufiq mengandung tendensi sebagai teks politik, meski manifestasi teks politik itu tak serta merta membatalkan kecenderungan yang saya sebut sebagai “multiteks”. Saya kira, pengaruh kondisi politik dan sosial yang diresapi Taufiq secara tak langsung menjadikan puisi-puisi yang ia buat menjadi “multiteks”: pada Taufiq, puisi bukanlah alat ekspresi semata, juga bukan sekedar sarana menggapai estetika. Di tangan Taufiq, puisi terutama merupakan manifestasi janji untuk bertindak.

(Pemenang III Lomba Karya Tulis Mahasiswa 55 Tahun Taufiq Ismail dalam Sastra Indonesia)


Baca Selengkapnya

Chairil Anwar dalam Risiko

Oleh: Ridha al Qadri

Chairil Anwar hadir dalam “revolusi”. Pada saat yang sama, “penyair” adalah individu yang merefleksikan risiko eksistensi. Karena itu, situasi artistik puisinya adalah tegangan biografis di tengah khaos. Bagaimanakah “seni” puisi seperti ini jadi bagian “revolusi”?

Selama bulan-bulan di tahun 1942, seorang lelaki berusia 20 tahun, penuh gairah, mulai menyusuri jalan-jalan di Batavia, menjelang Jepang mengganti pendudukan Belanda di tanah Inlander, dan setelah ia pergi dari Medan karena membenci ayahnya. Batavia, waktu itu, beda dengan tempat kelahirannya. Batavia berarti wilayah di mana segala hal dari Eropa mendapat jalan terbuka, dan ke kota itu pula perhatian membentuk “Indonesia” tertuju. Sedangkan ia, Chairil Anwar, anak bupati yang kemauannya mesti terpenuhi, justru bersemangat dengan segala hal dari Eropa.
Di Batavia, tahun itu, ia bergaul dengan gadis-gadis Belanda Indo, sambil meyakini sebuah sajak Sentot yang disalin Multaluli, “Hari Akhir Olanda di Jawa”, yang meneriakkan tantangan, serta ancaman menodai putri-putri penjajah. Tiap hari ia dan orang-orang melihat poster-poster pembebasan bangsa, mendengar ide pembaruan sejak De Indische Partij dan Sarekat Islam di wilayah sosial-politik-agama, hingga Poedjangga Baroe dalam sastra dan budaya.
Tahun itu pula, orang-orang makin mendesak untuk merubah dan membentuk bangsa. Sebab, Indonesia tahun itu adalah kelanjutan masa sebelumnya, zaman yang menuntut harga kemanusian dan kebangsaan. Akan tetapi, membentuk manusia dan bangsa, era kolonial itu, berarti menjalani kontradiksi revolusi.
Jepang menghalangi revolusi dalam hal apa pun. Sedangkan revolusi adalah bentuk penyangkalan hegemoni sekaligus afirmasi kedaulatan manusia.
Sajak “Diponegoro” ditulis dalam garis afirmasi dan negasi itu: “punah di atas menghamba/binasa di atas ditinda”. Dalam bait ini, pengubahan posisi melukiskan pergulatan derajat terjajah yang hendak dilampaui. Bahkan, penyangkalan itu menerima konsekuensi paling akhir, yakni, “binasa”. Di sana, ia menyarankan status otonomi, agar harga diri manusia tak lagi direndahkan.
Pada zaman revolusi itu, di mana sistem dan relasi masyarakat bergeser dan kacau, Chairil Anwar menyebut puisinya dalam rangka “perhitungan habis-habisan” dengan sekitarnya. Kemudian, perhitungan diletakkan menurut pandangan “harga sebagai manusia dengan kepribadian”. Kesimpulan ini dinyatakan dalam surat untuk H.B. Jassin pada 8 Maret 1944.
Satu tahun sebelumnya, ia menulis sajak-sajak mengenai hasrat cinta pada perempuan. Tapi, ia seolah tak ingin menyerahkan diri sepenuhnya pada wanita, seperti pada sajak “Tak Sepadan” dan “Sia-sia”. Sedangkan sajak “Sendiri” menampilkan sepi dan kalut seseorang “dari segala/yang minta perempuan untuk kawannya.” Risau akan hasrat pada perempuan justru membuat ia memanggil-manggil sosok Ibu.
Secara bersamaan, malam-malam tahun 1943 itu, Chairil terlihat memenuhi hasrat seksual dengan Marsiti di Stasiun Senen, sambil membaca buku sastra di samping pelacur itu. Di Batavia itu, keterpisahan dengan keluarga membawa Chairil dari sebuah tempat yang dianggap gaduh ke tempat tenang. Sajak “Pelarian” dan “Suara Malam” memperlihatkan bahwa tempat tenang baginya ada di luar rumah, yang bertolak dari risau “ke mana/untuk damai dan reda?.”
Seperti dapat kita baca dari sajak-sajak dan kisah hidupnya, perempuan adalah bagian yang intim. Tapi, perhatian itu selamanya merisaukan proses individuasi Chairil. Hasrat cintanya menghendaki relasi yang tak menentang cara berpikir Chairil. Seperti dalam bait ini: “Aku mau bebas dari segala/Merdeka/Juga dari Ida.” Atau: “sebab perempuan susah mengatasi/keterharuan penghidupan.” Atau dalam baris reflektif tahun 1947: “cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar”.
Dalam keadaan demikian, subjektifitas Chairil mendapat prioritas berlawanan dengan hasratnya. Gairah cintanya sangat besar. Sedangkan dorongan subjektifitasnya lebih besar. Dengan begitu, bagi Chairil, cinta yang menentang kepribadiannya justru tak akan ia terima.
Dari sini, sajak Chairil Anwar menampilkan sekian perhitungan kontradiktif atas nilai pribadinya. Ia menganggap “harga sebagai manusia dengan kepribadian” sebagai nilai paling tinggi. Maka, ia tak menghendaki penghalang atas nilai-nilai subjektifnya. Pada pemahaman ini, harga kemanusiaan yang Chairil bayangkan adalah perjuangan subjektifitas.
Niat seperti itu menuntut segala hal dari individu sebagai pokok. Sebagai konsekuensi, ia mengarahkan diri dalam perkembangan kreatif menciptakan nilai-nilai sendiri bagi dunianya. Dengan kata lain, subjektifitas menyusun cara pandang yang menganggap individu sebagai sumber nilai, bukan ditentukan nilai dari luar dirinya. Cara pandang inilah yang identik dengan humanisme.
II
Dalam hal Chairil, pada awalnya bukanlah nilai-nilai subjektif yang ditentukan. Tapi, subjektifitas, atau harga manusia, dimulai ketika hasratnya menemui kontradiksi.
Mengenai relasi hasrat dan subjektifitas, Jaques Lacan memberi banyak perhatian. “Hasrat”, dalam pengertian filsuf Prnacis ini, muncul dari “subjek yang kekurangan”. Hasrat lahir dari dorongan seseorang atas sesuatu yang diinginkan. Apa yang diinginkan bisa berupa benda atau yang bukan benda, pada makanan, tempat, pengakuan, atau orang lain. Pemenuhan hasrat berarti kebutuhan “subjek yang kekurangan” itu tercapai atau terpuaskan.
Seperti yang terlihat pada Chairil, hasratnya tak terpisahkan dengan prioritas subjektif. Subjektifitas mengacu pada segala sesuatu dari pelaku atau pribadi yang mengarahkan pikiran, emosi, tubuh, indera, visi, dan intuisi ke dunia di luar dirinya. Subjektifitas itu “dalam dunia“ sekaligus “untuk dunia”.
Subjektifitas itulah asal individualisme Chairil, seperti keyakinan penyair modern sejak Charles Baudelaire, Arthur Rimbaud, dan Stephan Mallarme. Namun, dalam rentang hidup Chairil, hasrat dan subjektifitasnya itu terus menemui negasi dan halangan. Kontradiksi subjektif yang ia alami itu berasal dari orang lain dan kenyataan zaman revolusi.
Pada Maret 1943, “Aku” (Kalau sampai waktuku...), ditulis dalam keadaan siap melawan bahaya, tapi, juga rasa muak pada orang lain yang merendahkan harga dirinya. Setelah itu, sajak “Hukum” ditulis sebagai gambaran individu yang penuh cita-cita, yang “banyak menangkis pukul” dera nasib. Orang dalam kedua sajak ini adalah gambaran seorang pejuang.
Bulan itu pula Chairil jatuh cinta pada Soemirat. Ia mengabadikannya, saat malu-malu dan saling berpandangan (sajak “Lagu Biasa”), dan fantasi sentimentil bermesraan di tempat penuh kembang dan udara hangat (sajak “Taman”). Bahkan, ia telah menganggap Soemirat sebagai “tunangan”. Sebuah sajak untuk Soemirat pada awal tahun 1944 menampilkan ekspresi, seruan, dan gelora cinta tersebut: “kucuplah aku terus, kucuplah/dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku...” (sajak “Sajak Putih”). Dalam sajak ini, hasrat cinta Chairil mengacu pada tubuh yang ingin menyerap kasih dan gairah demi membentuk hidup bersama.
Secara bersamaan, ketika pendudukan Jepang memicu ambruknya ketertiban sosial, Chairil makin rawan oleh “dunia” yang menentang dirinya (sajak “Kesabaran”). Karena risau dengan kondisi yang tak aman itu, semakin mendekatkannya pada dilema, yakni keadaan terombang-ambing antara tempat yang tentu atau tempat yang tak menentu. Baru kemudian, dari dilema ruang ini, Chairil membayangkan sebuah rumah dalam sajak Slauerhof bagi kebahagiaannya, sebuah cita-cita mempunyai dan memenuhi tempat tinggal dengan “unggun-timbun sajak” (sajak “Rumahku”, April 1944).
Bulan sebelumnya, Maret 1944, harapannya tersebut sudah mendekati kegagalan. Bulan itu, Chairil ikut Soemirat pulang ke Jawa Timur, dengan niat sekalian melamar pada orang tua kekasihnya. Malangnya, keluarga Soemirat tak suka kelakuan Chairil, ditambah pendapatan menulis puisi yang tak menentu. Ia dianggap belum layak jadi suami. Tapi, ia justru minta ongkos naik kereta ke Jakarta pada ayah Soemirat. Dalam kereta inilah diabadikan perasaan “sayatan terus ke dada”, saat melihat senja dan purnama justru melengkapkan kisah cinta yang celaka (Sajak “Dalam Kereta”).
Tahun itu menunjukkan bahwa hasrat Chairil mendapat kasih Soemirat dan hasrat membentuk “rumah” menemui jalan buntu. Tak ada restu orang tua merendahkan harga dirinya. Dengan demikian, terdapat halangan terhadap harapan, atau subjektifitasnya. Maka, ia mengalami penyangkalan cita-cita.
Penyangkalan adalah kontradiksi, yang mengacu pada segala negasi. Pada keadaan itu, berlangsung suatu pertentangan. Dalam filsafat Alain Badiou, negasi adalah keadaan-keadaan yang saling berlawanan. Sedangkan seseorang yang mengalami kontradiksi mungkin bisa membawa dirinya pada sikap destruksi, penghancuran, hingga perlawanan. Akan tetapi, sebaliknya, ia dapat pula menyusun pengalihan, penyimpangan, atau distorsi.
Subjektifitas yang menemui kontradiksi tetap akan ada, namun, akan mencari disposisi ke lain arah. Bahkan bisa berbalik, subjek ini mengukuhkan diri sebagai lawan bagi yang di luar dirinya, yakni penolakan pada segala sesuatu yang dianggap menyangkal subjektifitasnya. Dalam hal seperti inilah seseorang mengawali kesadaran individualnya.
Dari sini, bila Chairil sebagai penyair hendak melihat “jiwa sendiri” sebagai manusia, maka, ia meneropong jiwanya bersama penghalang yang menekan keinginan-keinginannya.
Dengan demikian, kepribadian Chairil adalah hasrat subjektif yang terancam patah dan retak. Tapi, ia juga afirmasi terus menerus pada hasrat dan subjektifitas yang tak terbatas. Terutama jika dorongan subjektif yang besar itu hadir pada zaman perang, yang hampir tak ada jaminan, atau dalam lingkungan yang kacau. Singkatnya, secara bersamaan, ia hadir dalam sebuah tatanan yang khaos: keadaan berantakan, kacau, goyah, tak aman, tak stabil, tak menentu. Khaos sosial adalah wilayah ambruknya masyarakat tanpa ada pertimbangan jaminan hidup.
Lalu, seperti apakah subjektifitas penyair yang berlangsung dalam lingkungan yang kacau ini?
III
Subjektifitas yang menemui penghalang justru bisa membentuk negatifitas. Pada satu kesempatan, ia cenderung mengukuhkan cara pandang perlawanan. Khususnya, jika subjek itu ada dalam lingkungan dan sejarah penjajahan. Sedangkan sastra yang lahir di tengah revolusi sering bertolak dari sikap perlawanan itu dengan pelbagai variasi.
Edwar Said, dalam Kebudayaan dan Kekuasaan, punya rumusan yang bisa berlaku untuk mewakili kondisi kolonial ini. “Kebudayaan dan bentuk-bentuk estetika”, kata Edwar Said,” berasal dari pengalaman sejarah.” Dalam pembahasan yang luas, Said memperlihatkan bagaimana pertumbuhan kebudayaan dan kesenian sering memuat respon dan ungkapan terhadap bentuk-bentuk imperialisme.
Poedjangga Baroe adalah wakil yang dekat dengan pandangan Said tersebut, meski banyak yang mengawali gerakan intelektual Indonesia sejak “politik etis” berlaku. Rumusan penting zaman kolonial itu adalah bagaimana menciptakan kemajuan bangsa terjajah untuk menentukan nasibnya sendiri. Sutan Takdir Alisjahbana menganjurkan tanggung jawab sosial sebagai pokok pembebasan dan kemajuan. Bersama Armijn Pane dan Amir Hamzah, ia meletakkan garis pembaharuan sastra dan kebudayaan yang mengawali polemik orientasi kultural.
Agaknya, pada awalnya bukan soal bagaimana arah kultural Indonesia diletakkan. Menurut Asrul Sani, bahwa hal yang mendasari pertumbuhan sastra hingga zaman Chairil adalah “tradisi humanisme”. Pandangan inilah yang mengusulkan “martabat manusia” sebagai “kebenaran baru” bagi Indonesia. Hal ini disebabkan transformasi “humanisme” oleh intelektual Pribumi melalui bahasa Melayu. Tentu saja, setelah bahasa ini berangsur-angsur jadi bahasa nasionalisme kebudayaan.
Tradisi humanisme adalah pijakan kultural di tengah penjajahan. Ada pun alasan yang mendasar, karena imperialisme mendekatkan tatanan sosio-budaya Indonesia ke dalam pola hegemoni. Sistem kolonial inilah yang menjauhkan nilai kemanusiaan yang mestinya jadi pegangan hidup. Justru dengan itu, seluruh gerakan kemerdekaan, terutama kebudayaan dan sastra, mendapat titik pernyataan. Humanisme jadi pencarian baru mengatasi kekacauan dan derita bangsa. Meski pun “humanisme” itu dijalankan dengan bermacam cara pandang.
“Martabat manusia” atau “harga sebagai manusia” itulah yang jadi pemikiran Chairil untuk memposisikan diri dalam sejarah penjajahan. Dalam hal puisi, menulis berarti menggunakan bahasa yang mengungkapkan afirmasi kemanusiaan. Tapi, secara bersamaan, kemanusiaan zaman kolonial adalah kemanusiaan yang ditindas.
Maka, perlu suatu puisi yang antagonis, sekaligus memberi tekanan sikap optimis. Chairil Anwar mengawalinya lewat bait “biar peluru menembus kulitku/aku tetap meradang menerjang”. Tak ada keharuan dari sajak ini. Tak terasa pula kemarahan. Sebab, dalam kondisi lemah itu, perjuangan bukanlah sejenis kemarahan. Dalam “Kita Guyah Lemah”, sajak dalam pidato Chairil tahun 1943, kondisi yang lemah justru dihadapkan pada pergulatan mengatasi kelemahan itu: “segala erang dan jeritan/kita pendam dalam keseharian...//mari tegak merentak”.
Hampir tak ada keindahan dalam sajak-sajak ini. Itu pun jika keindahan diartikan sebagai lukisan kenyataan yang membuat senang atau gembira. Dalam kebanyakan sajaknya, justru kenyataan yang dihadirkan terasa pekat, gelap, penuh bahaya, dan menantang. Sedangkan keindahan, bagi Chairil, hanya dapat dicapai dengan semacam daya, melalui kekuatan, tenaga, atau dengan “vitalisme”. Karena itu ia menyimpulkan, bahwa “keindahan” hanya dicapai melalui “persetimbangan perpaduan dari getaran-getaran hidup.”
Keindahan yang terdiri dari sekian getaran hidup adalah sesuatu yang beragam, beda, dan tegang. Getaran hidup merupakan keadaan-keadaan, atau perasaan-perasaan, yang tak seimbang, tak sejajar, kontras, beragam, terpisah, tak satu arah. Kondisi ini membentuk tegangan. Tegangan dari getaran hidup adalah kondisi manusia dengan sekian kontradiksi.
Kontradiksi-kontradiksi inilah yang membawa manusia pada kontras-kontras dan beda situasi dalam dunia. Sedangkan Chairil justru memanfaatkan kondisi-kondisi manusia yang kontras ini. Ia memadukan dan menyatukan bermacam kondisi manusia yang berlawanan itu ke dalam cara berpikirnya sebagai seniman, atau dalam visi seorang penyair.
Dengan demikian, penjadian “dunia” yang terlukis dalam sajaknya adalah “alam penghidupan” yang memprihatinkan dan perasaan luka yang tak tertahan. Bagi Chairil, seorang penyair harus mengarahkan “dasar pikirannya” ke tengah perasaan “suka dan duka”, untuk mencapai penciptaan kembali dunia yang paling dekat dengan cara pandangnya. Bagi Chairil, seorang penyair harus mengukur kekuatan dunia yang terlihat, yang kontras dan bertentangan sekalipun, untuk memusatkan “tenaga perasaan-perasaannya” menyerap dan membentuk sebuah pernyataan. Dalam hal itu, bagi Chairil, “hahan-bahan bahasa” mesti dikuasai dan dimanfaatkan penyair dalam menyatakan “dunia” tersebut. Variasi-variasi bahasa, menurutnya, sangat menentukan bagaimana pikiran dan perasaan seniman memperoleh bentuk yang istimewa.
Perasaan, pikiran, suka, dan duka, saling dipadukan membentuk layar “dunia”. Dengan begitu, kenyataan yang berlawanan hal yang lazim dalam susunan sajak. Hal demikian dihadirkan seperti dalam bait ini: “aku hidup/dalam hidup di mata tampak bergerak/dengan cacar melebar, barah bernanah/dan kadang satu senyum kukucup-minum dalam dahaga” (“Aku” – Melangkahkan aku...)
Dalam sajak ini, penderitaan justru dijalin dengan rasa atau sikap yang tak pahit. Antara cedera dan bahagia tak disediakan jarak. Di sana, kondisi yang berlawanan justru serentak dihadirkan. Dengan pandangan itu, tenaga hidup sangat dibutuhkan ketika ia hendak melampaui situasi-situasi yang nyaris membuat hancur: “berilah aku tempat di menara tinggi...//atas keramaian dunia dan cedera” (“Kepada Pelukis Affandi”). Seperti yang dimaksud sajak ini, dengan daya yang kuatlah, ia akan menghadapi dan mengalihkan diri dari satu kondisi ke lain kondisi.
Pada tahun-tahun itu pula, keadaan lingkungan hidup Chairil dibentuk oleh perang. Perang adalah kekacauan, di mana tiap tatanan, penghargaan, dan nilai-nilai, telah roboh. Dalam masyarakat khaos itu, Chairil justru mendesakkan perhitungan terhadap lingkungan yang tak menghargai harga kemanusiaan tersebut. Perhitungan Chairil adalah menuntut diri mengubah kondisi sekitarnya. Untuk mengalihkan kondisi itu, ia harus membentuk diri, atau memperjuangkan martabatnya.
Maka, ia mencela tiap hal yang menggugat otonomi. Ia membantah segala ancaman yang menyerang nilai individu sebagai sumber keyakinan. Bahkan, ia siap menantang tiap konsekuensi yang datang dari bahaya revolusi. Ia menghadapkan nilai dirinya dengan ketidakpastian melawan penghalang kemanusiaan. Dengan kesimpulan, ia adalah individu di tengah bahaya.
IV
Antara individu dan bahaya itu, Alain Badiou mengajukan satu hal yang sering membuat cemas, tapi juga lazim, genting, dan perlu. Hal yang juga disadari Chairil. Hal itu adalah “risiko”.
Risiko, dalam pengertian Alain Badiou, adalah sesuatu yang niscaya dalam dunia. Ia menekankan arti “risiko” dalam wilayah filsafat dan dunia kontemporer. Ia melihat bahwa kadang manusia mengalir dalam dunia tanpa siap menerima konsekuensi-konsekuensi peralihan kondisi. “Dunia kita bukanlah hadiah sebuah janji”, kata Badiou, “tapi, sedikit demi sedikit, kita kehilangan kapasitas untuk mengarahkan eksistensi pada risiko atau bahaya-bahaya perubahan hidup.” Kemudian, untuk menghadapi bahaya hidup itu, filsuf Prancis ini menyarankan, justru “eksistensi menghendaki perhitungan yang rumit terus menerus.”
Dengan pemahaman Badiou, hal yang serupa dapat kita temui dalam sajak Chairil Anwar yang ditulis di akhir November 1946, yang berjudul “Kepada Kawan”. Meski pun Chairil memberi arah dan tekanan yang berbeda. Subjek dalam sajak ini eksplosif, ganas, berani, bertenaga, disertai gairah dan imperatif menghadapi bahaya, sekaligus ikhtiar merevisi terus menerus segala hal yang sudah dilakukannya: “isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,/tembus jelajah dunia ini dan balikkan.../hancurkan lagi apa yang kau perbuat.”
Dalam sajak ini, seorang individu tak harus memadamkan hasrat dan semangat. Di samping itu, seorang individu mesti mengarahkan diri pada dunia yang terus menerus bergerak. Tapi, risiko yang ditekankan dalam sajak itu berupa segala perhitungan yang disebabkan oleh segala sesuatu yang hadir dari musuh. Risiko diletakkan dalam kesadaran ruang otonomi, yakni, kedaulatan harga diri menentang hegemoni di lingkungan hidupnya. Dalam hal ini, pengertian Chairil dekat dengan pandangan Anthony Giddens, bahwa, risiko berarti kalkulasi pada konsekuensi hidup yang mungkin segera dialami.
Dalam tiga tahun sebelumnya, Chairil memandang risiko hidup ibarat “lautan maha dalam/mukul dentur selama/nguji pematang kita.” (sajak “Penghidupan”). Pada pemahaman demikian, risiko tak terpisahkan dengan rintangan dan ketidakpastian. Dengan begitu, risiko tampil di saat momen menghitung pertahanan hidup, antara untuk kalah atau untuk menang.
Pada sajak “Perjurit Jaga Malam”, pemahaman akan risiko lebih dekat pada kesadaran waktu. Dalam sajak untuk Baharudin dan Rivai Apin ini, kemungkinan dari memimpikan “kemerdekaan” adalah menjelajah wilayah yang gelap tanpa tahu kapan nasib baik didapat: “aku tidak tahu apa nasib waktu”. Memang terasa pesimis, seperti Sutan Takdir Alisjahbana mengartikan sajak-sajak Chairil. Tapi, sepertinya, bukan pesimisme yang jadi soal.
Permasalahannya, tiap risiko adalah perhitungan yang panjang. Terdapat sikap main-main dan keberanian untuk menerima hal-hal yang belum terjadi atau belum pasti itu. Karenanya, risiko hanya ditanggung oleh subjek yang singular, atau individu tunggal. Menurut Badiou, singularitas merupakan faktor mendasar dari eksistensi. Jika subjek menyangkal singularitasnya, atau ketika ia menolak dirinya sebagai individu yang mesti siap menerima konsekuensi, maka, eksistensinya mudah goyah, hancur, rapuh, dan lemah.
Itulah mengapa, singularitas dalam filsafat Alain Badiou adalah jalinan antara “kejadian dan kebenaran.” Pemahaman ini berarti seorang individu tak hanya menyerah pada peristiwa yang akan dialami. Sebab, singularitas berarti pertemuan antara subjek dengan dunia. Pertemuan itu berlangsung melalui pergantian dan peralihan peristiwa yang tak terbatas. Di saat yang sama, subjek yang mengalami perubahan peristiwa mesti menimbang, menilai, memperhitungkan, atau menengok pada kebenaran-kebenaraan dari dirinya terus menerus.
Argumentasi Badiou, subjek dalam “filsafat singularitas” adalah subjek yang terus menjadi, becoming, dengan meluangkan penalaran yang terus diperbarui. Ia seperti semboyan “hancurkan lagi apa yang kau perbuat”. Ia menyediakan tangkapan dan putusan pikiran pada yang akan berlangsung dan yang tengah dialami. Inilah “progam” filsafat, seni, sastra, politik, dan apa saja yang dimaksud Alain Badiou dengan dunia kontemporer.
Badiou menekankan “peristiwa”, event, atau momen bagi subjek “menjadi”. Menurutnya, tiap “peristiwa” membuka jalan bagi subjek ke masing-masing “kesempatan”. Apa pun “peristiwa” yang dialami tiap orang membawanya pada retakan komitmen, atau pada permainan “kesempatan”, sekaligus ke dalam ketidakpastian kalkulasi. Dalam pemahaman Chairil Anwar, di sana berlangsung tindakan “menimbang dan memutus”.
Dari pemahaman yang lebih dekat pada relasi “peristiwa” dan “kesempatan” inilah, subjektifitas atau sikap mengunggulkan nilai individu dalam diri Chairil mengalami sekian tantangan, atau mengalami sekian retakan. Dalam zaman perang itu, retakan subjektif adalah robekan-robekan nilai individu ketika menghadapi destruksi sosial, atau dalam kondisi kacau. Ia semacam luka. Akan tetapi, luka, atau, retakan subjektif itu tak berlaku permanen. Sebab, seorang individu tetap mendapat “kesempatan” yang berulang.
Kesempatan berarti sebuah celah, sela-sela momen untuk menyodorkan pikiran dan perhitungan. Di sana, ada jarak yang diukur, di mana otonomi manusia hendak dipertaruhkan. Jarak yang membuat cemas, bimbang, berisiko, menantang, menegangkan, atau dalam refleksi Chairil, yakni “antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga.” (sajak “Tuti Artic”)

V
Di Batavia itu, antara tahun 1942-1949, Chairil Anwar adalah penyair di tengah konflik sosial. Dari sebuah zaman yang tak memberi jaminan untuk selamat, ia menuliskan sajak-sajaknya. Dari suatu dunia saat “bahaya datang dari tiap sudut”, atau dari masa yang disusun kekacauan, Chairil Anwar bertahan pada “harga sebagai manusia”.
Dengan demikian, pengalaman perang, ketika seseorang menegakkan kedaulatan diri, adalah sebuah kondisi saat ia dihantam dera tanpa henti. Ia tak pernah tahu kapan reda akan tiba, seperti “racun” yang terpaksa direguk tiap pagi, ibarat hari-hari saat harapan terus menerus terpukul dan patah (sajak “1943”). Harga kemanusiaan saat perang, seperti mempertahankan kemanusiaan tanpa kepastian untuk selamat. Seluruh perhitungan, tiap kalkulasi, segala kapasitas bertahan dari konsekuensi, dalam zaman khaos itu, akhirnya, tak sebanding arti “kalah” atau “menang”.
Dengan konsekuensi, humanisme, atau pandangan apa pun yang mengunggulkan martabat individu, atau subjektifitas yang didesakkan pada realitas, adalah nilai-nilai yang hanya “sempat” terwujud di dunia. Humanisme bukan berarti pandangan nilai yang kekal, atau konsep yang utuh dan tegak, tapi, ia adalah tuntutan terus menerus agar memperoleh realisasi.
Dengan kata lain, keyakinan ini “seperti kapal pecah di dasar lautan”, yang “jemu dipukul ombak besar”. Meskipun pandangan ini adalah arah bagi subjek merdeka, atau tujuan bagi tiap eksistensi, atau titik tolak seseorang membentuk dunianya, di saat yang sama, ia tak pernah terpisah dengan ancaman.
Pada tiap dorongan menegakkan kemanusiaan, akhirnya, humanisme niscaya menemui kontradiksi dan risiko. Walaupun, dalam kesempatan demikian, seseorang tak pernah menghendaki penghalang untuk mewujudkannya. Maka, humanisme adalah daya tarik dan daya tolak yang tak terbatas. Humanisme selalu menunggu memperoleh kesempatan “menjadi”. Ia adalah “kebenaran” yang belum memperoleh wujud. Ia adalah nilai yang dibentuk kembali saat otonomi tempat orang berdiri mulai guncang. Ia adalah non-wujud yang memberi wujud pada tindakan kemanusiaan.
Dari sini, bait “punah di atas menghamba/binasa di atas ditinda”, adalah pernyataan memahami konsekuensi melawan hegemoni. Melawan penjajahan sama saja menghitung risiko yang panjang. Dan risiko paling akhir, ketika menuntut nilai individu kepada musuh, adalah ajal.
Dengan begitu, menulis puisi bersama semangat revolusi adalah tak memberi arti sepenuhnya pada kemalangan. Segala luka dan celaka, akibat krisis masyarakat, dalam sajak-sajak Chairil, dihadirkan bersamaan dengan membatalkan kemutlakkan maknanya. Tragedi perang tak dapat dihindari, tapi, ia hanya sebagian perhitungan yang belum hakiki.
Sebaliknya, Chairil memanfaatkan tragedi untuk menghapus kekangan tragedi itu sendiri. Kesengsaraan dilepaskan dari makna-maknanya yang cenderung membuat gentar dan takut. Situasi dari “kecemasan derita” dituliskan sebagai kenyataan yang mesti diterjang. Setiap sentimentalitas dan kelemahan, dera dan duka, dihilangkan batas-batas artinya.
Hasilnya, sekian puisi dengan pengalaman pahit dan cinta, luka dan harapan, derita dan mimpi, tragedi dan bahagia, yang masing-masing berlawanan, bertabrakkan, saling menyangkal, membantah, menolak, dan saling menahan ketunggalan arti. Dengan begitu, sajak-sajak Chairil tak memberi ruang yang luas bagi satu situasi. Ia tak menghendaki sebuah peristiwa dilihat lewat satu interpretasi.
Sampai di sini, sajak-sajak Chairil Anwar adalah layar subjektifitas. Di tiap bagiannya, berlangsung “peristiwa subjek” yang diproduksi. Peristiwa subjek itu tak pernah seragam. Bahkan, sering menunjukkan situasi dan keadaan yang bertolak belakang. Puisi, sebagai wilayah penciptaan, adalah dari mana segala hal dari relasi subjek dan dunia tampil. Pada momen seperti itu, puisi adalah semacam seni.
VI
Seni, art, bukan saja “yang indah”, beauty. Ia juga bukan hanya “yang menyenangkan” atau yang membuat “gembira” dan “nikmat”. Seni marangkum semua itu. Ia bukan sifat atau kualitas saja, tapi, sesuatu yang aktif.
“Seni”, dalam pemahaman Alain Badiou, “adalah proses suatu kebenaran”. Kata “proses” di sini mendapat tekanan. “Kebenaran” dalam seni itu hadir secara aktif, bergerak, tampil, dan “kebenaran” itu selalu berarti “kebenaran” yang dirasakan atau yang dicerap. Kebenaran dalam seni hadir sebagai “yang sensible atau yang sensual”. Sedangkan pikiran tak jadi kontrol. Pikiran justru menunggu dan membiarkan seluruh kenyataan tampil dari relasi subjek dengan dunia. Pikiran cenderung menyerahkan diri ke dalam keadaan, atau pada kesempatan-kesempatan di sela-sela momen artistik.
Justru pikiran yang akan menyusun kembali yang terlihat, yang terdengar, terasa, dialami, dan yang terpikirkan oleh subjek puisi ke dalam bahasa. Pikiran itu membentuk, membuat, menyatakan, memilih bahasa, dan menyusun perasaan seniman agar memperoleh “bentuk”. Dalam pemahaman Chairil, seniman “mesti bisa menimbang, memilih, mengupas, dan kadang-kadang sama sekali membuang.”
Pikiran, dalam hal puisi, berarti gerak transformasi “yang dirasa”, atau semacam kebenaran itu, ke dalam “penjadian” yang menyerupai ide atau gagasan. Penjadian itu merangkum perasaan dan pikiran sekaligus. Penjadian itu tak ditentukan hukum material. Sebaliknya, produksi subjektifitas itu membatasi unsur material. “Seni”, sekali lagi dari Alain Badiou, “adalah produksi atau penciptaan atas rangkaian-rangkaian subjektifitas yang tak terbatas melalui cara-cara terbatas mengurangi unsur material.”
Dari cara pandang “seni puisi” ini, kita maklum saat di depan puisi. Terutama di depan puisi yang baik. Di depan puisi, kadang ada yang tampil sebagai gagasan, atau semacam rasa yang sekejap hadir dan hilang. Ada rahasia yang muncul dan tenggelam, menuntut tafsir dan penyelaman. Ada sesuatu yang terbuka dari dalam. Sesuatu itu bagi Badiou, juga bagi Martin Heidegger, adalah kebenaran itu sendiri. Bagi mereka berdua, seni merupakan salah satu cara bagi “kebenaran” mendapat jalan membuka dirinya ke dalam dunia. Di sana, terutama pada puisi yang baik, terletak visi yang tak sengaja ditangkap, tak dipaksakan mendesak, namun, visi atau gagasan itu hadir dan terasa. Ia adalah rahasia eksistensi manusia. Bahkan, kadang, visi itu terlihat seperti gagasan baru
Dengan demikian, dari sajak-sajak Chairil, eksistensi itu memperoleh bentuk dari tegangan subjek yang penuh risiko. Tegangan ini membawa sekian pikiran dan perasaan, yang tampil, terbuka, dan muncul di celah “peristiwa subjek” dalam dunia. Situasi artistik sajak-sajak Chairil Anwar mengalir dari tegangan relasi antara perasaan yang kacau dengan subjektifitas yang ingin penuh, tetap, dan total.
Di sana, tangkapan pikiran hadir sewaktu-waktu. Seperti dalam sajak “Tuti Artic”, yang diawali ketidakpastian harapan: “antara bahagia sekarang dan nanti jurang menganga...”. Dan di akhir sajak, refleksi muncul secara mengejutkan: “cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar”. Di sana, ada “kebenaran” yang jadi konklusi, atau kesimpulan sementara yang dilihat penyair. Dengan demikian, seni sebagai proses dalam jalinan “kejadian dan kebenaran” memperoleh ruang manifestasi.
Di lain sajak: “bukan maksudku berbagi nasib,/nasib adalah kesunyian masing-masing”. Atau pernyataan di sajak lain: “menunggu reda yang mesti tiba.” Dan juga: “hidup hanya menunda kekalahan.” Atau: “bukan kematian benar menusuk kalbu”.
Pikiran-pikiran ini lahir dari kondisi khaos, ketika hasrat subjek menghadapi kenyataan-kenyataan yang nyaris membuatnya retak atau patah. Pikiran-pikiran itu mengandung semacam kebenaran, kebenaran yang dirasakan secara tragis, tanpa memberi makna yang tunggal.
Dari sini saya ingin menutup pembicaraan terhadap Chairil Anwar dengan mengutip pernyataan filsuf Spanyol, Miguel de Unamuno, dalam Tragic Sense of Life: “sejak kita hanya hidup dalam dan dengan kontradiksi-kontradiksi, sejak hidup adalah tragedi, dan tragedi adalah perjuangan terus menerus, tanpa kemenangan atau harapan akan kemenangan; hidup adalah kontradiksi.”
Akhirnya: selamat menulis puisi, membaca dan mendengarkan manusia!

(Dimuat di Littera Edisi II Maret-April 2008)


Baca Selengkapnya